15 May 2014

Tel-U Siap Dukung Lapan Ciptakan Satelit Sendiri

JAKARTA, TEL – U – Rektor Telkom University Prof Ir Mochamad Ashari M.Eng menegaskan dukungannya agar Indonesia memiliki satelit sendiri dan tidak bergantung kepada negara lain. Penegasan ini diungkapkannya saat konferensi pers di kantor Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Pusat Jakarta, Kamis (8/5).

“Penguasaan satelit merupakan salah satu fokus dalam penelitian yang saat ini tengah dikembangkan para peneliti kami, misalnya tentang Nano Satelite. Kami berharap riset seperti ini dapat dikembangkan bersama dengan Lapan agar kemandirian satelit dapat segera kita wujudkan,” ujar Rektor didampingi Kepala Lapan Pusat Prof Dr Thomas Djamaluddin serta pimpinan dan perwakilan enam perguruan tinggi lain.

Hari itu, tujuh perwakilan dari pergururuan tinggi berkumpul untuk menandatangani naskah kerja sama dengan Lapan. Selain Rektor Telkom University, hadir dalam acara itu pimpinan atau perwakilan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, PENS Surabaya, Universitas Nusa Cendana Nusa Tenggara Timur, dan Surya University.

Menurut Kepala Lapan Pusat Prof Dr Thomas Djamaluddin, keantariksaan saat ini seperti teknologi informasi. Kalau ada bangsa yang bisa mengembangkan sendiri satelitnya, maka bangsa itu akan menjadi kuat. “Ini jadi tantangan tersendiri, karena itu kami perlu bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mewujudkannya. Kami ingin 25 tahun ke depan bisa menghasilkan satelit operasi sendiri,” kata Thomas.

Thomas menambahkan, pihaknya saat ini tengah mengembangkan empat aspek besar yaitu pengembangan kompetensi, pengembangan layanan publik, penguatan kerjasama nasional dan internasional, serta pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Terkait dengan aspek SDM, Thomas ingin peneliti Lapan punya kualifikasi yang semakin baik. Caranya antara lain dengan menyekolahkan pegawainya baik di jenjang S1, S2, hingga S3. Karena selama ini, kata dia, masih banyak kendala untuk mengembangkan kualitas SDM ini.   “Kadang-kadang, saat sponsor ada, SDM yang bisa sekolah tidak ada. Akibatnya kami lakukan secara bergilir sehingga kurang efektif. Karena itu harus ada terobosan, misalnya dengan menjalin kerjasama ini,” katanya. (Purel/raf)