28 Oct 2015

Karya Mahasiswa DKV FIK Terpilih Ikut Festival Toleransi

BANDUNG, TEL-U – A Sobi Mutohari, mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Telkom University (FIK Tel-U), turut berpartisipasi menyuarakan isu sosial mengenai pentingnya sikap toleransi dalam menjaga hubungan di antara masyarakat. Partisipasi ini dia tuangkan dengan karya yang ikut dipamerkan pada Festival Toleransi: Indonesia Rumah Bersama 2015 yang dimulai pada tanggal 23 Oktober – 16 November 2015.

Acara ini yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jabar, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, Fair Organization, Spasial, Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB), Rumah Bintang, dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung.

Digelar di tiga tempat berbeda (Bale Rumawat UNPAD, Fakultas Hukum UNPAR dan Spasial Non-Profit Space), acara ini merupakan bagian dari rangkaian acara menuju Hari Toleransi Internasional yang diperingati pada tanggal 16 November mendatang.

Sobi menghasilkan sebuah karya berseri yang terdiri dari 3 gambar dengan judul “HUG”. Karya ini memberikan ilustrasi tentang makna ‘pelukan’ dalam lingkup Bhinneka Tunggal Ika. Lukisan sederhana ini sangat kontras sekali dengan kenyataan yang didapatnya, bahwa Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat pertama dalam hal sikap intoleransi antar umat beragama.

“Senang banget ya hasil karya saya bisa terpilih dalam acara ini,”ujar mahasiswa Disain Komunikasi Visual (DKV) 2012 ini. Selain itu, yang membuat Sobi senang karena bahan pameran ini akan dilelang dan hasilnya akan disumbangkan kepada korban peristiwa Aceh Singkil.

Menurut Sobi, kesenangan itu sempat terhalang oleh kendala yang dialaminya. Sobi yang membuat karya dalam dua bentuk, yakni bentuk manual (lukisan) dan bentuk digital, sempat bingung karena tiga hari menjelang batas pengumpulan karya, file dari karya digital ini rusak atau crash sehingga tidak bisa dibuka.

“Saya sempat bingung memilih untuk tetap ikut atau mundur karena ada keinginan untuk membuat karya dalam bentuk digital lagi, tapi karena waktu terbatas dan sudah mendekati batas pengumpulan karya, akhirnya tetap lanjut dengan mengumpulkan karya yang sama dalam bentuk manual,” katanya. (purel/BRR)

Previous Article Next Article

Leave a Reply