27 Apr 2016

Mahasiswa Ikom Tingkatkan Skill tentang City Branding

BANDUNG, TEL-U – Dalam membuat city branding terhadap sebuah kota, perlu sedikitnya ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah mitologi, sejarah hingga mitos yang ada dalam kota tersebut. Kedua adalah The Mundane, keseharian kota tersebut, dan yang ketiga adalah Visio, yaitu apa yang diharapkan dengan diadakannya city branding.

Hal tersebut disampaikan oleh Pakar City Branding, Ismail Reza dalam seminar City Branding di acara Screening Project City Branding Marketing Communication 2014 yang digelar di Aula Lantai 4 Gedung Kawalusu, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Jumat (22/4).

Reza menuturkan, sebuah kota tidak bisa begitu saja diperas menjadi tagline dan logo, harus ada riset mendalam dan bukan berdasarkan dari pengetahuan yang umum saja. “City branding tidak hanya membuat sesuatu yang baru, tetapi menemukan sesuatu yang sudah ada di kota tersebut,” ujar Reza.

Selain seminar, acara ini juga menampilkan sejumlah hasil karya mahasiswa-mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi FKB Tel-U angkatan 2014 yang menjadi tugas akhir mata kuliah Brand Management. Setiap kelas harus memberikan presentasi tentang city branding yang telah mereka buat selama satu semester.

Indra Pamungkas, SS., MSi selaku dosen mata kuliah Brand Management menuturkan, tahun ini merupakan yang pertama kali mahasiswa di mata kuliah Brand Management melakukan branding terhadap sebuah kota. “Di Indonesia banyak kota yang memiliki potensi yang sudah bagus hanya saja kurang dikomunikasikan. Untuk itu kami tim dosen mengajarkan kepada mahasiswa untuk bisa melakukan city branding,” ujar Indra.

Karya-karya yang ditampilkan antara lain “Kilau dari Timur” tentang kota Tual, “Hidden Paradise of Minang” tentang kota Painan, “Borneo’s Paradise” tentang kota Tanjung Redeb, “Kota di Atas Awan tentang kota Ruteng”, “Luwuk Menawan” tentang kota Luwuk, dan “Bau Bau Cantik” tentang kota Bau Bau. Kota-kota tersebut dipilih karena masih sedikit yang mengkomunikasikan dan mengetahui tentang kota-kota tersebut.

Semua presentasi karya tersebut kemudian dinilai dan beri komentar oleh tim dosen Brand Management serta oleh Ismail Reza. Hasil penilaian memutuskan Kota di Atas Awan tentang kota Ruteng menjadi karya Best of The Best. (purel/EAD)

Previous Article Next Article

Leave a Reply