14 Feb 2014

Rimba Whidiana Ciptasari Berhasil Selesaikan Studi S3 di Kyushu University

BANDUNG TEL-U- Negara Jepang memang menjadi pilihan banyak akademisi dunia untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Demikian pula dosen Telkom University, Rimba Whidiana Ciptasari, telah memilih Kyushu University Jepang untuk melanjutkan studi S3 di program studi Information Science and Electrical Engineering.

“Secara umum semua universitas di Jepang memiliki standar kualitas yang sama. Kyushu University merupakan salah satu universitas negeri terbaik di Jepang menduduki peringkat 7 dalam kategori “world education services” yang meliputi research funding, publications, entrance exam difficulty, dan survey,“ tutur Rimba.

Studi di Kyushu University merupakan kesempatan berharga bagi Rimba untuk fokus mengembangkan keilmuan. Tak hanya itu, studi di Jepang juga mendekatkan dirinya dengan suami tercinta yang saat itu juga sedang melanjutkan   studi S3 di universitas yang sama.

“Atmosfir akademik di Kyushu University sangat mendukung. Perpustakaan memudahkan mahasiswa untuk mengakses jurnal dan prosiding. Seandainya ada salah satu makalah yang tidak bisa diakses di perpustakaan lokal, maka staf pustakawan dengan mudah mendapatkan akses makalah ke universitas-universitas lain,” tutur Rimba. Tak hanya itu, konsep lab-based membuat suasana akademik semakin kental. Karena seminar internal lab rutin diadakan seminggu sekali, sehigga memicu para mahasiswa untuk selalu melakukan survey literature, lalu melaporkan kemajuan risetnya (tesis S1, S2, S3). Sehingga cenderung lulus tepat waktu.

Yang menarik di Kyushu University adalah banyaknya skema dana bantuan riset, baik dari laboratorium, universitas, yayasan, dan industry yang memicu para mahasiswa untuk selalu aktif di konferensi maupun jurnal Internasional.

Setiap universitas pasti mempunyai event riset yang khas, demikian pula Kyushu University. Rimba pun ikut merayakan ulang tahun Kyudai ke-100. Perhelatan diramaikan dengan festival makanan dan pameran hasil riset masing-masing laboratorium.

“Uniknya, mereka mengemas ilmu pengetahuan dalam bentuk permainan. Misalnya, anak-anak pengunjung festival diberi kesempatan untuk membuat kapal-kapalan sendiri dari bahan dasar gabus yang kemudian dijalankan dengan memberikan air sebagai pengganti mesin,” kenangnya.

Proses adalah hal yang sangat dihargai selain hasil akhir. Itulah kesan yang muncul di benak Rimba sepulang dari Jepang. Ia menilai, menghargai proses dan hasil akhir dapat menumbuhkan sikap kerja keras dan siap bekerja tepat waktu dalam segala hal.

Riset Exposing Digital Image Tampering

Studi S3 memang identik dengan riset.  Menjadi mahasiswa S3 dituntut memiliki tanggung jawab besar. Studi yang dilakukannya tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi, melainkan harus memberi solusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidang yang ditekuninya. Oleh karenanya, Rimba mantap untuk mengambil topik Multimedia Forensik khususnya di bidang Exposing Digital Image Tampering

“Exposing Digital Image Tampering meneliti bagaimana kita memanfaatkan scientific methods untuk mengumpulkan fakta-fakta digital (digital evidence) dalam investigasi suatu kasus kriminal,”  jelas Rimba.

Lanjutnya, sebelum melakukan penelitian dirinya sempat melakukan wawancara dengan dokter forensik di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran umum kasus yang biasanya terjadi di Indonesia. Khususnya untuk melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap keaslian (authenticity) suatu digital photograph.

“Tentunya, topik ini bisa dijadikan alternative dalam melakukan penelitian Tugas Akhir mahasiswa di Fakultas Teknik Telkom University,” kata Rimba.

Universitas memang pusatnya pengembangan ilmu pengetahuan.  Pun, usai studi S3 Rimba sudah punya rencana mengembangkan keilmuan khususnya yang berkaitan dengan multimedia forensik di Telkom University.

“Rencana itu ada. Misalnya dengan membentuk komunitas forensik di lingkungan Fakultas Teknik Telkom University,” kata Rimba. Tujuannya, untuk membangun prototype yang disesuaikan dengan kasus-kasus umum terjadi di Indonesia.  Perkembangan kasus di Indonesia cenderung bersifat dinamis. Hal itu memicu perkembangan teknologi/keilmuan yang diterapkan di bidang Multimedia Forensik.-KOMPRO TEL-U/Risca

Previous Article Next Article

Leave a Reply