15 Mei 2020

Managing Generation

BANDUNG, Telkom University – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University menyelenggarakan Program Donasi 100 Hari untuk Indonesia. Program tersebut merupakan short online training dengan topik-topik manajemen populer. Seluruh biaya pendaftaran dari peserta akan didonasikan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama Covid-19.

Program ini diselenggarakan melalui aplikasi Cloud X pada hari Selasa (12/5) dan menghadirkan pembicara Dr. Ratri Wahyuningtyas yang merupakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan mengusung tema Managing New Generation. Program ini terbuka untuk umum dengan jumlah partisipan sebanyak 69 orang.

Pada short online training hari ini, Dr. Ratri menjelaskan beberapa generasi sebagai pengantar materi yang akan disampaikan. Saat ini terdapat beberapa generasi yang ada, yaitu Generasi Veteran yang lahir sebelum tahun 1945, Generasi Baby Boomers yang lahir pada tahun 1946 – 1965, Generasi X yang lahir pada tahun 1966 – 1980, Generasi Y atau Milenial yang lahir tahun 1981 – 1995, Generasi Z yang lahir pada tahun 1996 – 2010, dan Generasi Alpha yang lahir setelah tahun 2011.

“Karakteristik dan ciri setiap generasi berbeda, hal ini dipengaruhi oleh interaksi dan kondisi lingkungan pada saat mereka bertumbuh, sehingga saat ini kita menghadapi berbagai generasi tumbuh dalam satu waktu,” ucapnya.

Dr. Ratri juga menjelaskan populasi generasi di Indonesia memiliki rasio yang berbeda dan didominasi oleh Generasi Z sebanyak 25% dan diprediksikan pada tahun 2025 – 2030, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Bonus demografi berarti populasi di Indonesia akan didominasi oleh angkatan produktif yang berusia 15 – 65 tahun. Peluang ini yang harus ditangkap oleh bisnis yang dihadapkan pada suatu situasi menghadapi empat generasi pada satu periode.

“Dalam hal ini, kita harus dapat membedakan kapan seseorang dinamakan manager dan kapan seseorang dinamakan leader. Kita harus melihat pembeda antara seorang manager dan seorang leader. Management selalu berbicara mengenai substain, menopang dan mendukung. Kalau kita berbicara leader, bagaimana ia menciptakan sesuatu yang baru, menciptakan visi, misi, dan perubahan, itu adalah leader sebetulnya.”

Dr. Ratri juga menambahkan bahwa management lebih banyak menggunakan logika berpikir dan berinteraksi dengan orang-orang, manager lebih mengedepankan cara berpikir untuk mencapai target. Berbeda dengan management, dalam merespon suatu situasi leader lebih mengedepankan sisi perasaan. Leader akan mencoba memahami apa yang akan dilakukan ketika berdiskusi dengan individu secara personal.

Masing-masing antara management dan leader memiliki titik berat yang berbeda, keduanya tidak ada yang lebih baik. Jika suatu organisasi terlalu fokus pada management akan menyebabkan karyawan stres dan situasi lingkungan terlalu kaku, dan jika suatu organisasi terlalu fokus pada leadership akan menyebabkan out of controll dan tidak fokus pada target. Sehingga perlu adanya kolaborasi antara management yang baik dan leadership yang baik juga.

Previous Article Next Article