PANDAI NeuroLearn 2.0: Inovasi EdTech Berbasis Bio-Sensing AI Karya Mahasiswa Tel-U di Program Inkubasi BTP

Telkom Universtiy – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, dunia pendidikan menghadapi tantangan baru, salah satunya dalah meningkatnya kelelahan belajar yang dialami siswa akibat intensitas pembelajaran yang tinggi . Menjawab tantangan tersebut, PANDAI NeuroLearn 2.0 hadir sebagai sebuah platform educational technology yang menggabungkan kecerdasan buatan yang berorientasi biologi atau Bio-sensing AI dengan ekosistem smart environment untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih personal,adatif, dan responsif terhadap kondisi pengguna.

Platform ini dikembangakan oleh tim mahasiwa Progeam Studi S1 Rekayasa Perangkat Lunak, Telkom University yang terdiri dari Thoriq Abdurrohman Taqy, Fanan Agfian Mozart, dan Grace Jessica. Dalam proses pengembangannya, inovasi ini juga mendapatkan dukungan melalui program inkubasi di Bandung Techno Park yang membantu tim dalam mematangkan konsep produk, model bisnis, serta strategi pengembangan startup.

PANDAI NeuroLearn 2.0 hadir sebagai reposn terhadap salah satu tantangan utama dalan dunia pendidikan modern, yaitu meningkatnya kelelahan belajar di kalangan siswa akibat intensitas penggunaan teknologi digital yang tinggi. Platform ini dirancang untuk memahami kondisi fisik dan mental siswa secara lebi mendalam sehingga proses belajar dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. 

Salah satu keunggulan utama dari PANDAI NeuroLearn 2.0 terletak pada integrasi sistem hybrid yang memungkinkan kegitan belajar tetap berjalan optimal baik secara luring maupung daring. Dalam sistem ini, interaksi belajar di lingkungan sekolah dapat dilakukan melalui perangkat edge computing yang menjaga privasi data siswa dengan memproses informasi secara lokal.  Di sisi lain, sistem daring tetap tersedia untuk memberikan akses pembelajaran yang lebih luas dan fleksibel.

Selain itu, PANDAI NeuroLearn 2.0 juga dilengkapi dengan dukungan teknologi stimulasi saraf transcranial direct current stimulation (tDCS) yang dirancang dengan standar keamanan tertentu. Teknologi ini dipadukan dengan protokol amygdala shield yang bertujuan menjaga keseimbangan aktivitas otak selama proses belajar berlangsung.

Dengan kombinasi teknologi tersebut, sistem PANDAI mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih adaptif dan personal bagi setiap siswa. Proses pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi kognitif dan emosional siswa secara dinamis.

Melalui inovasi ini, tim pengembang  berharap PANDAI NeuroLearn 2.0 dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan masa depan yang memanfaatkan teknologi secara human-cetered. Platform ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pembelajaran, tetapi juga sebagai sistem yang mendukung kesehatan mental, konsertasi, seta efektivitas belajar siswa. 

Sejalan dengan visi tersebut, pengembang PANDAI NeuroLearn 2.0 juga diarahkan untuk mendukung transformasi pendidikan menuju generasi yang lebih adaptif dan unggul. Dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan yang terintegrasi dengan pemantauan kondisi biologis, platform ini diharapkan dapat membantu meningkatkan daya serap pembelajaran hingga dua kali lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional. 

Sebagai inovasi yang lahir dari lingkungan akademik Telkom University dan berkembang melalui ekosistem inkubasi Bandung Techno Park, PANDAI NeuroLearn 2.0 diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun sistem pendidikan yang lebih cerdas, adaptif, dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045.

Penulis: Najwa Nurul Aulia | Editor: Belinda Fransisca Bunadi | Foto: Pandai NeuroLearn 2.0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *