Bulan Ramadan merupakan momen yang dinantikan, namun menjalani ibadah puasa di tengah padatnya jadwal perkuliahan seringkali menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua pengalaman berpuasa memiliki tingkat energi dan produktivitas yang sama.
Dua kondisi yang kerap dialami mahasiswa adalah “puasa lemas” dan “puasa bugar”, yang masing-masing dipengaruhi oleh pola makan, manajemen waktu, serta tingkat aktivitas fisik. Dengan memahami perbedaannya, Telutizen dapat menyiapkan langkah antisipasi agar tetap produktif, baik di dalam kelas maupun saat menjalankan berbagai program kerja kampus.
Puasa Lemas: Energi Terkuras di Tengah Hari
Puasa lemas biasanya terjadi ketika tubuh kehabisan cadangan energi lebih cepat dari yang seharusnya. Kondisi ini sering kali dipicu oleh kebiasaan melewatkan sahur, kurang tidur, atau konsumsi gula berlebih saat berbuka.
Menjadi mahasiswa dengan jadwal yang padat mulai dari mengejar deadline tugas, mengurus kepanitiaan, yang melibatkan banyak massa tentu menguras banyak kalori. Jika aktivitas yang tinggi ini tidak diimbangi dengan asupan gizi yang tepat saat sahur, tubuh akan mudah kehilangan fokus dan terasa lelah sebelum waktu berbuka tiba.
Puasa Bugar: Produktivitas Tetap Terjaga Meski Menahan Lapar
Sebaliknya, puasa bugar adalah kondisi di mana tubuh tetap memiliki stamina yang stabil sepanjang hari. Hal ini dicapai melalui hidrasi yang cukup, pemilihan nutrisi yang tepat (karbohidrat kompleks dan protein tinggi), serta jam tidur yang teratur.
Mahasiswa yang mengalami puasa bugar mampu menyerap materi perkuliahan dengan baik dan tetap prima saat melakukan kegiatan perkuliahan lainnya di siang hari, karena tubuhnya telah menyimpan cadangan energi secara efisien.
Bagaimana Telyutizen Dapat Bersiap?
- Terapkan Pola Hidrasi 2-4-2
Dehidrasi adalah pemicu utama rasa lemas. Pastikan asupan cairan terpenuhi dengan pola: 2 gelas saat berbuka, 4 gelas di malam hari (sebelum hingga sesudah tarawih), dan 2 gelas saat sahur.
- Pilih Karbohidrat Kompleks untuk Sahur
Hindari menu sahur instan yang hanya tinggi karbohidrat sederhana. Pilihlah makanan seperti oatmeal, nasi merah, atau roti gandum yang dicampur dengan protein (telur atau ayam). Makanan ini dicerna lebih lambat sehingga efek kenyangnya bertahan lebih lama saat Anda harus berpindah-pindah gedung fakultas.
- Manajemen Waktu
Seringnya rapat acara hingga larut malam dapat memotong jam istirahat secara drastis. Usahakan untuk:
- Menggeser jadwal diskusi organisasi menjadi sore hari sembari menunggu waktu berbuka (ngabuburit produktif).
- Membatasi rapat malam maksimal hingga pukul 22.00 agar tubuh bisa beristirahat sebelum bangun sahur.
- Batasi Gorengan dan Gula Berlebih Saat Berbuka
Meskipun takjil di sekitar kampus sangat menggoda, langsung mengonsumsi makanan berminyak dan sangat manis akan memicu lonjakan gula darah yang cepat turun, membuat Anda justru merasa mengantuk saat tarawih. Awali dengan kurma dan air putih, lalu beri jeda sebelum makan besar.
- Menyusun Rencana Siaga Stamina Harian
- Siapkan botol air minum di kamar agar target hidrasi malam hari selalu terpantau.
- Rencanakan menu sahur dari malam sebelumnya untuk menghindari makan seadanya.
- Sempatkan tidur siang singkat (20-30 menit) di sela-sela pergantian kelas untuk me-reset fokus otak.
- Tetap Aktif Secara Terukur
Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan. Lakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau stretching, delegasikan tugas yang membutuhkan tenaga fisik ekstra pada waktu-waktu mendekati berbuka, dan maksimalkan tugas administratif atau brainstorming di pagi hari saat energi masih penuh.
Penulis: Khairul Muflih | Editor: Abdullah Adnan | Foto: Public Relations