Telkom University – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Telkom University. Annisa Fauziah, mahasiswa program Magister (S2) Cyber Security dan Digital Forensik Fakultas Informatika Telkom University Bandung, sukses membawa startup besutannya, Akses Belajar, lolos seleksi resmi Inkubasi Bisnis Bandung Techno Park (BTP) Telkom University.
Bersama timnya, Wahyu Pratama (CEO & Founder) dan Syukri Albani (CPO), Annisa mengembangkan inovasi teknologi pendidikan (EdTech) yang mendemokratisasi akses belajar bagi siswa di seluruh Indonesia melalui integrasi Artificial Intelligence (AI) dengan aplikasi pesan instan.
Menggabungkan Ilmu Cyber Security dan Pendidikan
Sebagai mahasiswa S2 di bidang Cyber Security dan Digital Forensik, Annisa memiliki peran krusial dalam pengembangan aspek teknis dan keamanan sistem di Akses Belajar.
“Sebagai mahasiswa Universitas Telkom, terutama di jurusan Teknik Informatika, wawasan saya tentang bagaimana teknologi dapat bermanfaat bagi kehidupan semakin terbuka. Saat ini saya juga sedang kuliah pasca sarjana bidang Cyber Security dan Digital Forensik, yang tentunya menjadi bekal diskusi dengan para dosen untuk kebutuhan pengembangan produk Akses Belajar,” ujar Annisa.
Peran Annisa dan tim di Akses Belajar menggabungkan dua aspek berbeda, yakni teknologi AI (engineering) dan kurikulum pendidikan sains/STEM. Tim co-founder yang memiliki kompetensi inti di bidang engineering (AI, software, cyber security) fokus pada pengembangan teknologi, sementara aspek kurikulum dikembangkan melalui kemitraan strategis.
Solusi Belajar Pintar via WhatsApp
Akses Belajar hadir sebagai solusi inovatif untuk mengatasi kesenjangan pendidikan, terutama bagi siswa di kota tier 2 dan tier 3 yang sering terkendala spesifikasi perangkat. Startup ini memanfaatkan penetrasi aplikasi pesan instan yang mencapai 90,8% di Indonesia.
Keunggulan utama Akses Belajar adalah kemampuannya mengubah WhatsApp dan Telegram menjadi “ruang kelas” pintar. “Aplikasi bimbel konvensional mengharuskan user journey yang panjang, seperti unduh aplikasi dan daftar email. Dengan WhatsApp, barrier to entry menjadi nol,” jelas Annisa. Notifikasi WhatsApp juga dinilai lebih efektif secara psikologis karena terasa lebih personal layaknya pesan dari teman atau kakak kelas, bukan sistem kaku.
Salah satu fitur unggulannya adalah Note-to-Quiz, di mana siswa cukup mengunggah foto catatan atau file PDF, dan sistem AI Akses Belajar akan memprosesnya secara real-time untuk menghasilkan kuis latihan secara otomatis.
Tantangan Teknologi dan Solusi “Dynamic PDF Rendering”
Mengintegrasikan Generative AI ke dalam WhatsApp memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menampilkan rumus matematika (STEM) yang kompleks. Jika hanya menggunakan teks biasa, struktur rumus seringkali hancur.
Untuk mengatasi hal ini, Annisa dan tim mengembangkan arsitektur Dynamic PDF Rendering. “Sistem kami membungkus seluruh hasil pemikiran Visual Logic AI menjadi satu dokumen PDF sekaligus. Hal ini memberikan pengalaman belajar di mana penjelasan penyelesaian masalah jauh lebih terstruktur dan mudah dipahami siswa, sekaligus lebih efisien dibanding Image Generation yang mahal,” paparnya.
Dukungan Ekosistem Telkom University
Lolosnya Akses Belajar ke dalam program inkubasi Bandung Techno Park menjadi katalisator penting bagi perkembangan startup ini. Menurut Annisa, BTP berperan vital dalam menavigasi validasi masalah pengguna hingga penentuan target pasar yang tepat.
“Bantuan pendanaan operasional dari inkubasi BTP membantu kami mengakselerasi pengembangan produk, strategi Go-to-Market, dan jejaring (networking),” tambah Annisa.
Saat ini, Akses Belajar berada dalam fase akhir Beta Testing dan transisi menuju validasi pasar awal, dengan fitur lengkap seperti AI Tutor, Try Out, dan gamifikasi latihan harian yang siap membantu siswa menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
Penulis: Khairul Muflih | Editor: Abdullah Adnan | Foto: Akses Belajar