Pemberdayaan Kelompok Pengrajin Keripik Comring melalui Implementasi Alat Cetak Keripik Termodifikasi untuk Menuju Smart Production

Bandung, 10 Agustus 2026 – Kelompok Keilmuan Manufacturing and Process Engineering (KK MPE) yang diwakili oleh Dr. Dida Damayanti, S.T., M.Eng., Dr. Pratya Poeri Suryadhini, S.T., M.T., dan Haris Rahmat, S.T., M.T., Ph.D, serta beberapa mahasiswa S1 Teknik Industri Telkom University (Tel-U), telah melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kampung Margasari, RT 05/RW 01, Desa Margalaksana, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya pada Kamis (6/8). Kegiatan ini menyasar kelompok pengrajin makanan ringan yang memproduksi camilan khas daerah Salawu, yaitu keripik Comring. 

Pengabdian Masyarakat ini dilakukan karena Proses pembuatan comring saat ini masih menggunakan cara dan peralatan yang manual dan konvensional, sehingga beberapa permasalahan yang dapat terjadi antara lain: 

  1. Kecelakaan kerja karena kurangnya mekanisme pengamanan proses 
  2. Waktu proses yang lama 
  3. Tercemarnya bahan makanan karena terekspos lingkungan 
  4. Kualitas yang tidak standar 
  5. Penggunaan bahan dan proses kurang efisien 

Roadmap pengabdian Masyarakat untuk UMKM produsen comring akan disesuaikan dengan kebutuhan fungsi diatas dan menghasilkan mesin produksi comring secara bertahap sampai lengkap dalam suatu lintasan produksi dan terintegrasi. Adapun roadmap pelaksanaan abdimas di kelompok pengrajin keripik compring dilakukan berdasarkan proses produksi, yang dapat dilihat pada gambar berikut ini: 

Melalui Abdimas Hibah Internal Perioda 1 Tahun 2026 TUNC, diajukan pembuatan mesin cetak adonan singkong untuk bentuk bulat pipih, yang akan diberikan kepada kelompok pengrajin di desa Margalaksana Tasikmalaya dan kedepannya akan diintegrasikan dengan mesin pemarut dan peras, yang sebelumnya telah dilaksanakan. 

Alat cetak ini diajukan karena saat ini pada proses produksinya dilakukan secara manual dan konvensional, Adapun langkah pencetakannya adalah sebagai berikut: 

  1. Adonan dengan porsi tertentu dipilin bulat dengan menggunakan tangan (kondisi tangan dalam keadaan bersih dan menggunakan sarung tangan pelastik). 
  2. Bulatan adonan dipipihkan dengan cara dihimpit oleh dua buah kaca. 
  3. Ukuran adonan disesuaikan dan dilepas dari kaca. 

Berdasarkan proses produksi tersebut, dapat dipastikan bahwa kecepatan produksi terbatas, ukuran bisa bervariasi, adanya potensi adonan terkontaminasi, dan kelelahan pada pengrajin, dengan demikian kegiatan Pengabdian Masyarakat yang diajukan ini, diharapkan dapat membantu para pengrajin dalam memproduksi produksi agar lebih produktif, kualitas produk terjaga, dan aman bagi para pengrajin dalam melaksanakan aktivitasnya. 

Mesin pencetak keripik comring yang dikembangkan dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat ini merupakan mesin semiotomatis yang dirancang untuk mengatasi ketidakefisienan operasional yang ditemukan pada proses pencetakan manual tradisional yang digunakan oleh UMKM di Kampung Margasari, Tasikmalaya. Metode yang digunakan saat ini masih mengandalkan gelas kaca sebagai cetakan seperti pada Gambar 2, sehingga menghasilkan ukuran keripik yang tidak konsisten, kapasitas produksi yang rendah, serta potensi risiko keselamatan bagi para operator. 

Masalah yang dihadapi tersebut diatasi dengan mengusulkan mesin yang dapat menerapkan mekanisme seperti yang dilakukan secara manual. Perancangan mesin dilakukan dengan menggunakan metode Reverse Engineering, yaitu salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan atau merancang ulang suatu alat/mesin.  

Berdasarkan rancangan yang dibuat, maka hasil akhir alat bantu cetak yang akan diberikan ke kelompok pengrajin di Kampung Margasari dapat dilihat pada gambar berikut ini: 

Gambar 2 Alat bantu cetak keripik comring yang diusulkan 

Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dinilai bermanfaat bagi kelompok pengrajin makanan ringan khas Tasikmalaya ini, Kegiatan dilaksanakan berjalan dengan baik, penerimaan yang sangat baik dan terbuka dari pemimpin setempat dan kelompok pengrajin. Harapan dari pemimpin dan kelompok pengrajin tersebut adalah kegiatan ini bisa terus berlanjut karena masih ada proses-proses yang dilakukan secara manual, dan pengembangan alat yang dapat membantu produksi Masyarakat untuk produk lainnya. 

Program Abdimas ini mengacu pada roadmap Kelompok Keilmuan, yang salah satu topik utama pada roadmap KK Manufacturing and Process Engineering adalah pendampingan kepada masyarakat untuk memfasilitasi alat penunjang produktivitas masyarakat. Adanya keselarasan antara kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dengan roadmap KK Manufacturing and Process Engineering, program ini berpotensi menjadi model pemberdayaan UMKM berbasis teknologi modern yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi akademisi dalam mewujudkan transformasi industri pangan lokal menuju era smart production. 

Penulis: Pratya Poeri Suryadhini | Editor: Belinda Fransisca Bunadi | Foto: Pratya Poeri Suryadhini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Secret Link