Bandung, 3 Juni 2026 – Kuliah umum bertajuk “Praktik Kurasi, Estetika Habitual, dan Pelestarian Film Nasional” berhasil diselenggarakan pada Rabu (3/6) di Aula Lantai 5 Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University (Tel-U). Kegiatan ini menghadirkan Riri Riza—sutradara veteran dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di industri film Indonesia—sebagai pembicara utama, dengan Zen Al Ansory sebagai moderator yang memandu jalannya kuliah umum dan dibuka oleh Anggar Erdhina Adi selaku Ketua Program Studi Film dan Animasi FIK, Tel-U.
Kuliah umum yang dibuka oleh Ketua Program Studi Film dan Animasi, Anggar Erdhina Adi, dan dimoderatori oleh dosen sekaligus sutradara Zen Al Ansory, membahas pentingnya sejarah, kurasi, serta preservasi film Indonesia di tengah minimnya perhatian terhadap arsip nasional.
Dalam paparannya, Riri Riza menjelaskan bahwa banyak film Indonesia berisiko hilang karena belum adanya kebijakan yang mewajibkan setiap produksi menyerahkan salinan karya ke arsip nasional. Menurutnya, pelestarian film tidak dapat bergantung pada niat baik individu semata, tetapi membutuhkan sistem dan komitmen bersama.
Saat sesi diskusi, Riri juga menjelaskan konsep estetika habitual, yakni pola-pola narasi yang terus diulang hingga dianggap sebagai kewajaran. Ia mencontohkan bagaimana film era Orde Baru cenderung menghindari ambiguitas moral dan menggunakan narasi yang aman agar dapat melewati proses sensor.
Menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai langkah konkret yang dapat dilakukan generasi muda, Riri memberikan pesan sederhana namun mendalam:
“Kalian tidak bisa menjaga warisan orang lain kalau arsip kerja kalian sendiri berantakan. Organize yourself well. Mulai dari yang paling dekat: diri kalian sendiri.” tegasnya.
Bagi Riri, kemampuan mengorganisasi diri, mendokumentasikan proses kreatif, dan membangun integritas berkarya merupakan bentuk self-curatorial yang menjadi fondasi dalam menjaga keberlanjutan karya di masa depan.
Menutup kegiatan, moderator Zen Al Ansory mengutip pepatah Latin Verba volant, scripta manent—kata-kata akan terbang, tetapi tulisan akan tetap tinggal. Ia menegaskan bahwa film dan arsip bukan sekadar media hiburan atau dokumentasi, melainkan warisan budaya yang akan menjadi ingatan kolektif bagi generasi mendatang.
Kuliah umum ini menjadi pengingat bahwa mencintai film berarti juga bertanggung jawab untuk merawat dan melestarikannya, sehingga sejarah sinema Indonesia dapat terus hidup dan diakses oleh generasi berikutnya.
Penulis: Muchammad Zaenal Al Ansory | Editor: Belinda Fransisca Bunadi | Foto: Muchammad Zaenal Al Ansory