Bandung, 28 Agustus 2026 — Perkembangan industri kreatif yang semakin pesat membuka ruang luas bagi perempuan untuk berkarya dan berkontribusi. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, masih terdapat berbagai tantangan terkait posisi perempuan dalam menentukan narasi, mengembangkan karya, hingga membangun kemandirian ekonomi.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam workshop bertema perempuan dalam konteks industri kreatif bertajuk “Di Balik Bayang Layar”, yang diinisiasi oleh Dyah Ayu Wiwid Sintowoko, S.Sn., M.A. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Grant Korea Foundation 2026 dengan dukungan Research Institute of Sustainable Society (RISS) Telkom University, serta melibatkan CoE Karsaloka Fakultas Industri Kreatif Telkom University.
Bertempat di Gedung Bangkit Telkom University, Bandung, kegiatan yang berlangsung pada Selasa (18/8) tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas ketahanan (resilience) dan pemberdayaan perempuan secara lebih substansial di tengah perkembangan industri kreatif dan ekonomi digital.
Dalam industri kreatif, keterlibatan perempuan kerap kali hanya dilihat dari kehadiran mereka sebagai figur dalam layar maupun produk komersial. Padahal, terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni sejauh mana perempuan memiliki kendali terhadap narasi, proses kreatif, serta keputusan yang membentuk representasi mereka.
Hal tersebut dibahas oleh Dr. Ira Wirasari melalui perspektif komunikasi visual dan periklanan kosmetik. Ia mengangkat bagaimana standar kecantikan diproduksi dan direproduksi melalui berbagai bentuk komunikasi visual, sehingga perempuan tidak jarang ditempatkan sebagai objek yang lebih banyak dilihat dibandingkan menjadi subjek yang memiliki ruang untuk menyuarakan pengalaman dan identitasnya.
Melalui diskursus femvertising, pembahasan tersebut mengajak peserta untuk melihat kembali posisi perempuan dalam industri periklanan serta mempertanyakan siapa yang memiliki kendali dalam membentuk dan menyampaikan makna.
Perspektif berbeda hadir dari ranah perfilman melalui pemaparan Dr. Dyna Herlina Suwarto. Perkembangan platform digital telah mendorong peningkatan produksi dan distribusi film, sekaligus membuka peluang yang semakin besar bagi sineas dan pekerja kreatif perempuan untuk mengambil peran di balik layar.
Kehadiran perspektif perempuan dalam proses produksi film dinilai penting karena dapat memperkaya cara cerita dibangun dan karakter direpresentasikan. Pengalaman perempuan tidak lagi sekadar ditempatkan sebagai pelengkap, tetapi dapat menjadi bagian dari proses kreatif yang menghadirkan representasi manusia secara lebih beragam dan kompleks.
Sementara itu, Maya Irjayanti membawa pembahasan pada aspek ketahanan ekonomi melalui perspektif kewirausahaan. Menurut perspektif yang dibahas dalam workshop, kreativitas dan karya seni perlu didukung oleh kemampuan tata kelola bisnis, pemanfaatan teknologi, pengembangan jejaring, serta akses terhadap pasar dan sumber daya finansial.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah kompetisi industri kreatif yang terus berkembang. Pemberdayaan perempuan, dengan demikian, tidak hanya berkaitan dengan peningkatan partisipasi, tetapi juga bagaimana perempuan memiliki kapasitas dan akses untuk mengelola serta mengembangkan sumber daya yang dimilikinya.
Workshop “Di Balik Bayang Layar” menjadi ruang refleksi bahwa pemberdayaan perempuan dalam industri kreatif tidak cukup diukur melalui jumlah partisipasi. Lebih jauh, pemberdayaan berkaitan dengan kemampuan untuk bersuara, menentukan narasi, membangun ketahanan, serta memiliki kendali terhadap arah karya dan masa depan ekonomi yang dibangun.
Melalui ruang-ruang akademik dan kolaborasi lintas institusi seperti ini, Telkom University terus mendorong hadirnya diskursus yang kritis dan konstruktif mengenai perkembangan industri kreatif sekaligus membuka ruang bagi lahirnya perspektif baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Adnan | Editor: Adrian W. | Foto: Narasumber