Jakarta, 27 Januari 2026 – i-DEA Hub turut berpartisipasi sebagai pembicara dalam kegiatan National Dissemination Forum on Disability-Inclusive Higher Education in Indonesia yang diselenggarakan oleh British Council bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Dalam forum tersebut, Ibu Amanda Bunga Gracia, M.A., yaitu Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University (Tel-U) selaku i-DEA Hub Team Lead, menjadi pembicara pada sesi kedua. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (27/01), dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari kementerian, perguruan tinggi, serta mitra internasional.
Pada sesi tersebut, Ibu Amanda Bunga Gracia, M.A. tampil bersama Dr. Benny Bandanadjaja, S.T., M.T., Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, serta Bapak Jonathan Vincent, i-DEA Hub Team Lead (UK). Diskusi difokuskan pada gambaran kondisi pendidikan tinggi inklusif di Indonesia, termasuk tantangan implementasi kebijakan serta peluang penguatan kebijakan berbasis temuan riset.
Dalam paparannya, Ibu Amanda menyampaikan hasil temuan kuantitatif dari riset i-DEA Hub yang menunjukkan berbagai tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi inklusif. Temuan tersebut mencakup keterbatasan ketersediaan data, belum optimalnya partisipasi perguruan tinggi dalam pengisian data, serta kesiapan institusi dalam menyediakan layanan dan akomodasi yang layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Sementara itu, Bapak Jonathan memaparkan hasil kajian kualitatif yang menyoroti pentingnya memahami pengalaman dan kebutuhan penyandang disabilitas secara langsung. Ia menekankan bahwa upaya mewujudkan pendidikan tinggi inklusif tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga menuntut perubahan budaya kampus, peningkatan aksesibilitas materi pembelajaran, serta dukungan institusional yang berkelanjutan.
Pada forum yang sama, Dr. Benny Bandanadjaja menegaskan bahwa penerapan prinsip inklusivitas harus menjadi komitmen bersama lintas sektor.
“Mari kita bersama sama terus mem sosialisasi kewajiban yang kita semua perlu jalanin,” ujar Dr. Benny.
Beliau menambahkan bahwa penguatan regulasi, pengawasan, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga, yang didukung oleh data yang akurat, menjadi kunci agar kebijakan pendidikan tinggi inklusif dapat diimplementasikan secara efektif dan berkelanjutan.
Melalui sesi ini, National Dissemination Forum on Disability-Inclusive Higher Education in Indonesia diharapkan mampu memperkuat dialog kebijakan berbasis bukti, memperluas kolaborasi lintas sektor, serta mendorong percepatan terwujudnya pendidikan tinggi yang adil, setara, dan inklusif bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
Penulis: Septiana Yustika Widyaningrum | Editor: Belinda Fransisca Bunadi | Foto: Septiana Yustika Widyaningrum