16 Sep 2021

Mahasiswa Tel-U Sabet Juara 1 dan 2 di Ajang IEEE YESIST 12

BANDUNG, Telkom University – Dua tim Telkom University berhasil menghasilkan produk inovasi dan mendapat gelar juara 1 dan 2 di ajang IEEE YESIST 12 (Youth Endeavours For Social Innovation Using Sustainable Technology) yang berlangsung pada Agustus 2021.

IEEE YESIST 12 merupakan ajang pertunjukan bakat internasional bagi para siswa dan profesional muda untuk memamerkan ide-ide inovatif guna menyelesaikan masalah kemanusiaan dan sosial di sekitar lingkungan.

Dalam kompetisi ini YESIST12 bertindak sebagai platform untuk menjembatani kesenjangan antara para engineer dan visioner untuk berkontribusi kepada masyarakat melalui inovasi.

Kompetisi ini berlangsung dua tahap, di mana tahap pertama merupakan seleksi yang dilakukan di negara-negara Asia dan Afrika. Tim yang lolos seleksi tahap pertama akan masuk ke tahap selanjutnya di mana pada tahapan ini para peserta akan bersaing secara global untuk menuangkan ide-ide dan inovasinya guna mengatasi masalah kemanusiaan dan sosial seperti kemiskinan, kelaparan dan lain sebagainya.

Ada lima kategori yang dilombakan pada ajang ini, yaitu: Innovation Challenge, Junior Einstein, Maker Fair, WePOWER dan Special Track.

Pada kompetisi ini dua tim Telkom University berhasil meraih juara 1 dan 2 untuk kategori Innovation Challenge. Tim yang meraih juara pertama adalah Tim Dandelions dengan anggota Toifatul Ngulum, Citra Pangestu, Efwandha Yudhono, dan Niesya Yulianny. Kemudian Tim HealthConnect yang beranggotakan Rofi Rezkin, I Gede Megantara, Johan Eric Dwi Saputro, Elvina Hasriya Putri meraih juara kedua. Kedua tim ini berasal dari Fakultas Ilmu Terapan Telkom University.

Tim Dandelions yang meraih juara 1 berkesempatan masuk ke tahap internasional, di mana hasil karyanya akan dipresentasikan di level internasional dan akan diumumkan hasilnya pada bulan Oktober 2021.

Niesya menceritakan bahwa tim Dandelions membuat sebuah aplikasi Bernama “Si TingTing (Sistem Cegah Stunting itu Penting)”, sebuah aplikasi edukatif untuk meningkatkan pengetahun ibu dan calon ibu guna pencegahan stunting.

“Melalui aplikasi ini kami ingin memberikan sebuah inovasi kepada masyarakat untuk membantu mengatasi masalah stunting yang ada di Indonesia. Selain itu melalui aplikasi ini kami ingin meningkatkan kualitas SDM di Indonesia, dengan cara memberikan edukasi tentang pentingnya kualitas gizi yang harus dipenuhi oleh anak-anak khususnya anak di bawah 2 tahun.” Jelasnya.

Persiapan yang dilakukan Neisya dan tim adalah dengan melakukan langsung observasi pengetahuan masyarakat terhadap stunting, dan memakan waktu hingga 2 pekan.

“Kendala  yang kami rasakan terkait kondisi pandemik saat ini, yang mengharuskan kita untuk membatasi komunikasi langsung dengan orang lain, namun kami mencari solusi masalah tersebut yaitu dengan melakukan survey melalui form yang kami kirimkan kepada masyarakat untuk memvalidasi masalah yang ada sekaligus memvalidasi solusi yang kami berikan.” Jelasnya.

Niesya berharap aplikasi yang dikembangkan timnya bisa dimanfaatkan tidak hanya di Indonesia, tapi dapat dimanfaatkan secara global.

“Isu stunting ini tidak hanya isu nasional tapi sudah menjadi masalah global, dan kami berharap agar aplikasi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat sehingga mampu mengurangi angka stunting di Indonesia dan dunia.” Ucapnya.

Dalam kategori Innovation challenge, terdapat enam tema, yaitu: Uplifting societal standards, Disaster prediction and Risk Management, Special Needs and healthcare, Women and children Safety, Natural Resource management and protection, dan Geographical and space science.

Tim HealthConnect yang diwakilkan oleh Rofi Rezkin menjelaskan bahwa timnya membuat sebuah  Inovasi dibidang kesehatan, di mana timnya membuat alat medical check up yang terintegrasi dengan aplikasi.

“Alat ini bisa dimanfaatkan di rumah sakit, posyandu, puskesmas bahkan di rumah sekalipun. Karena alat ini bersifat portable, dapat bekerja selama ada jaringan internet. Hasil dari alat tersebut bisa dikonsultasikan langsung dengan dokter yang juga bisa melalui aplikasi, sehingga dokter lebih cepat mendiagnosa.” Jelasnya.

Rofi menceritakan alat ini dibuat karena melihat masalah yang sedang terjadi saat ini, di mana kondisi pandemi menyebabkan pelayanan kesehatan seperti rumah sakit penuh, maka inovasi ini dibuat untuk membantu masalah tersebut.

“Kami mempersiapkan alat ini selama kurang lebih lima bulan, karena kami langsung membuat alat medical check up dan melakukan perbandingan dengan alat sensor hasil pabrikan agar kualitasnya sama. Selain itu kami juga harus merancang sistem aplikasinya, sehingga untuk proses kalibrasi dan perancangan aplikasi memakan waktu yang cukup lama.” Jelasnya.

Previous Article Next Article

Tinggalkan Balasan