Bandung – Majas adalah salah satu unsur penting dalam karya sastra dan tulisan yang berfungsi memberikan keindahan sekaligus makna mendalam pada sebuah kalimat atau karya. Secara sederhana, majas adalah gaya bahasa yang digunakan pengarang untuk menyampaikan ide, perasaan, dan pesan secara khas dan menarik. Menurut Keraf (2006), majas atau gaya bahasa berasal dari kata Latin stilus, yang semula berarti alat untuk menulis. Seiring waktu, maknanya berkembang menjadi teknik dalam menata bahasa dengan ciri khas tertentu. Gaya Bahasa juga seringkali disebut sebagai cara menggunakan sebuah Bahasa untuk tujuan dan konteks tertentu.
Dalam konteks bahasa Indonesia, majas tidak hanya berfungsi sebagai ornamen keindahan, tetapi juga sebagai cara pengungkapan yang bisa memberikan efek penekanan, humor, sindiran, metafora, dan sebagainya. Majas dapat menjadikan suatu pesan lebih bermakna dan berbobot. Oleh karena itu, sangat wajar jika gaya bahasa dipengaruhi oleh kepribadian serta pemikiran pengarangnya. Penggunaan majas yang tepat mampu menarik perhatian pembaca, namun sebaliknya, jika digunakan secara tidak tepat, pesan yang disampaikan bisa menjadi kurang efektif atau bahkan sia-sia.
Jenis-Jenis Majas
Menurut Depdiknas (2005) dan berbagai ahli bahasa, majas dapat dibagi menjadi beberapa jenis utama yang sering digunakan dalam karya sastra maupun teks sehari-hari:
1. Majas Perbandingan
Majas perbandingan merupakan gaya bahasa yang membandingkan satu objek dengan objek lain untuk memberikan efek tertentu pada pembaca atau pendengar. Tujuan majas perbandingan adalah memperjelas atau memperindah suatu pernyataan dengan cara menghubungkan dua hal yang berbeda namun memiliki kesamaan sifat atau karakteristik. Terdapat berbagai macam majas perbandingan, diantaranya:
- Majas Alegori: Penggunaan kiasan yang membawa pesan moral atau ide besar tersembunyi, misalnya dalam cerita simbolik.
- Majas Metafora: Perbandingan tanpa kata penghubung yang eksplisit, misalnya “lautan api” untuk kebakaran besar.
- Majas Personifikasi: Memberikan sifat manusia pada benda mati atau hewan. Contoh: “angin berbisik.”
- Majas Simile: Perbandingan eksplisit menggunakan kata “seperti” atau “bagai.”
- Majas Hiperbola: Ungkapan berlebihan untuk memberi penekanan.
2. Majas Penegasan
Majas penegasan merupakan majas yang memiliki gaya bahasa untuk memperjelas dan mempertegas suatu pernyataan atau gagasan. Tujuan majas penegasan adalah memberikan penekanan dan kesan yang lebih kuat pada pembaca atau pendengar. Contoh majas penegasan diantaranya adalah majas pleonasme, repetisi, dan paralelisme, yang berfungsi menguatkan pesan secara retoris.
3. Majas Pertentangan
Majas pertentangan adalah majas yang memiliki gaya bahasa yang menggunakan dua hal yang bertentangan atau berkebalikan untuk menciptakan efek tertentu dalam sebuah kalimat atau pernyataan. Contoh majas pertentangan ialah majas ironi, litotes, dan antitesis yang mengandung makna berlawanan atau sindiran halus.
4. Majas Sindiran
Majas sindirian adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sindiran atau kritik secara tidak langsung, baik dengan maksud halus maupun kasar. Biasanya dipakai untuk menyampaikan kritik atau sindiran secara tersirat, misalnya ironis dan sinisme.
Beragam jenis majas ini menunjukkan betapa kaya dan fleksibelnya bahasa dalam menyampaikan pesan dan makna secara estetis. Dengan menggunakan majas, pengarang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membuat karya menjadi hidup dan menyentuh perasaan pembaca.
Contoh Majas
Supaya lebih memahami penggunaan majas, berikut adalah beberapa contoh yang biasa ditemui dalam teks berbahasa Indonesia:
Majas Alegori
Majas alegori merupakan gaya bahasa yang menjadikan seluruh isi cerita sebagai lambang atau perumpamaan untuk menyampaikan makna tersirat. Tujuan utama majas ini adalah untuk mengungkapkan pesan moral atau makna tersembunyi melalui simbolisme dalam narasi. Contoh: Sebuah purnama yang terus terang menyinari hutan lebat, menceritakan tentang kejujuran yang mampu menembus kegelapan keraguan.
Majas Metafora
Majas Metafora adalah majas yang membandingkan dua hal berbeda tanpa menggunakan kata pembanding seperti “laksana” “seperti” atau “bagai”. Majas metafora digunakan untuk menyampaikan makna dengan cara yang lebih berkesan atau hidup. Contoh: “Pikiranmu adalah pelabuhan di mana badai ide merapat dan berlabuh”.
Majas Metonimi
Majas Metonimi mampu menggantikan sebuah nama dengan nama lain yang memiliki suatu hubungan yang erat dari sisi waktu, ruang dan hubungan konseptu. Fungsi majas metonimi untuk memberikan Kesan yang lebih ekspresif Contoh: “Dia membaca Tere Liye” artinya membaca karya Tere Liye.
Majas Litotes
Majas Litotes adalah majas yang mengungkapkan suatu hal besar atau kuat dengan ungkapan atau pernyataan yang merendahkan secara halus. Fungsi majas litotes adalah membuat suatu pernyataan terdengar lebih sopan dan halus tanpa memberi Kesan yang merendahkan. Contoh: “Dia bukan orang yang bodoh.”
Majas Hiperbola
Majas hiperbola merupakan gaya bahasa yang digunakan dengan cara melebih-lebihkan suatu hal, dengan tujuan untuk memberikan penekanan sehingga terdengar lebih mencolok atau dramatis. Fungsi majas hiperbola yaitu memberikan Kesan humor, penekanan dan dramatis yang kuat. Contoh: “Saya sudah menunggu seribu tahun lamanya”.
Majas Eufimisme
Majas Eufemisme menggunakan kata yang lebih halus untuk menggantikan kata yang dianggap kasar atau tabu. Majas eufimisme bertujuan untuk mengurangi penggunaan kata-kata yang bermakna kasar atau menyakitkan bila diungkapkan secara eksplisit. Contoh: ” Dia sedang dalam perjalanan panjang menuju dunia yang lebih damai” untuk menggantikan kata “meninggal.”
Majas Personifikasi
Majas Personifikasi menyamakan sifat atau karakteristik manusia dengan benda mati seperti tumbuhan atau hewan. Majas ini bertujuan untuk membuat pengibaratan agar suatu ungkapan menjadi lebih menarik. Contoh: “Angin berbisik lembut di telinga.”
Majas Ironi
Majas Ironi menyatakan sesuatu hal yang menyimpang dari apa yang ingin dikatakannya sebenarnya. Majas ironi sering berupa sebuah sindiran. Tujuan majas ironi adalah untuk membuat suatu ejekan berbentuk pujan. Contoh: “Wah, kerjamu sangat cepat sekali!” saat sebenarnya lambat.
Majas Sarkasme
Majas Sarkasme adalah bentuk sindiran pedas yang tajam dan menyakitkan untuk mengejek. Majas ini bertujuan untuk mengungkapkan ketidaksetujuan akan suatu hal berbentuk kritik yang jauh lebih keras. Contoh: ” Oh luar biasa, kau berhasil membuat kekacauan menjadi karya seni”.
Majas Sinisme
Majas Sinisme bentuk sindiran yang mengandung ejekan atau ketidakpercayaan terhadap sesuatu dengan sikap sinis, biasanya digunakan untuk menunjukkan skeptisisme atau kritikan yang melemahkan atau merendahkan suatu hal. Bentuk kritik atau sindiran majas sinisme lebih menonjolkan sikap sinis, berbeda dengan majas Sarkasme yang lebih tajam dan pedas, dengan tujuan menyakiti atau menghina secara langsung. Contoh: ” Tentu, semua orang pasti senang dengan ‘kejutan’ yang kau buat itu…”.
Majas Pleonasme
Majas Pleonasme adalah majas yang berisi pengulangan kata menggunakan kata-kata yang sebenarnya berlebihan atau memiliki arti sama. Tujuan majas ini untuk membuat Kesan yang lebih kuat dan ekspresif. Contoh: ” Turun ke bawah”.
Majas Repetisi
Majas Repetisi adalah majas yang menggunakan pengulangan kata atau frasa untuk memperkuat makna tertentu. Tujuan penggunaan majas repetisi adalah agar sebuah ungkapan menjadi lebih kuat dan jelas. Contoh: “Jalan terus, terus, dan terus sampai tiba.”
Majas Retorika
Majas Retorika pertanyaan yang sebetulnya tidak memerlukan jawaban, digunakan untuk menegaskan atau memperkuat argumen tertentu. Contoh: “Siapa yang tidak ingin bahagia?”.
Majas Aliterasi
Majas Aliterasi adalah majas yang ditandai dengan pengulangan bunyi konsonan pada awal kata secara berurutan. Contoh: ” Kilau kilau kristal kota kecil kini kian kuat”. Majas ini sering diajarkan dalam pembelajaran bahasa sebagai cara memperkaya kemampuan berbahasa dan memperdalam apresiasi sastra.
Fungsi-Fungsi Majas
Majas memiliki fungsi utama dalam karya sastra dan komunikasi, yaitu:
- Menciptakan Keindahan Bahasa Majas membuat bahasa tampak hidup, menarik, dan penuh warna. Dengan majas, kalimat yang sederhana dapat berubah menjadi karya seni berbahasa yang memikat.
- Menyampaikan Makna Lebih Mendalam Majas mampu menyampaikan maksud atau pesan secara tersirat yang kadang tidak dapat disampaikan secara langsung. Hal ini menambah dimensi interpretatif pada teks.
- Membangkitkan Imajinasi Pembaca Penggunaan majas merangsang imajinasi dan emosi pembaca, membuat pengalaman membaca menjadi lebih hidup dan berkesan.
- Memperkuat Efek Pesan Dalam retorika, majas berperan untuk mempertegas serta menekankan suatu pesan, sehingga pesan tersebut menjadi lebih mudah diingat, dipahami, dan dirasakan oleh audiens.
- Mengadaptasi Bahasa dalam Era Digital (Metaverse) Di era digital dan dunia virtual seperti metaverse, majas menjadi alat untuk menampilkan kreativitas bahasa yang memperkaya komunikasi. Bahasa figuratif ini sangat penting untuk membangun dunia maya yang dinamis dan ekspresif.
Dengan memahami majas dan berbagai jenisnya, kita bisa lebih menghargai kekayaan bahasa Indonesia yang tidak hanya fungsional tapi juga estetis. Majas memegang peranan krusial dalam membangun karya sastra yang indah dan bermakna, sekaligus membantu komunikasi dari hati ke hati dengan gaya yang khas. Era digital dan metaverse bahkan membuka peluang baru untuk eksplorasi gaya bahasa yang semakin kreatif dan inovatif.
Referensi
Nafinuddin, S. (2020, July). Majas (Majas perbandingan, majas pertentangan, majas perulangan, majas pertautan) [Preprint]. OSF. https://doi.org/10.31219/osf.io/a8rwt
Zaimar, O. K. S. (2002). MAJAS DAN PEMBENTUKANNYA Makara Human Behavior Studies in Asia, 6(2), 45. https://doi.org/10.7454/mssh.v6i2.38
Penulis : Meilina Eka Ayuningtyas | Editor : Aqila Zahra Qonita | Foto : Public Relation