21 Nov 2020

Sustainability Energi dan SDM Unggul untuk Indonesia Maju

Bandung, Telkom University – Telkom University sebagai PTS Terbaik No. 1 di Indonesia terus aktif meningkatkan kualitas dalam mencapai Research and Entrepreneurial University. Hal ini tercermin dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam mencapai visi tersebut. Dalam berkontribusi untuk negeri, Telkom University mencetak generasi unggul penerus bangsa.

Berkolaborasi dengan Forum Rektor Indonesia (FRI), Telkom University menyelenggarakan Live Webinar yang mengangkat tema ‘Sustainability Energi dan SDM Unggul untuk Indonesia Maju’. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa (17/11) melalui ZOOM Meeting dan kanal YouTube Telkom University.

Kegiatan ini diikuti Rektor dari berbagai perguruan tinggi Indonesia, sivitas akademika, dosen dan mahasiswa. Turut hadir juga pembicara yaitu Ir. Munir Ahmad selaku Sekretaris Direktur Jenderal Ketenagalistrikan dan Andriah Feby Misna, S.T., M.T., M.Sc selaku Direktur Bioenergi, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).

Prof. Dr. Adiwijaya selaku Rektor Telkom University menjelaskan bahwa disrupsi yang terjadi saat ini banyak dipengaruhi oleh dunia digital. Digital Connectivity dan Digital platform tidak ada artinya apabila tidak ada energi.

“Kalau kita lihat dari outlook energi di Indonesia pada 2019 sampai 2022, bahwa sangat penting bagi setiap universitas bisa memiliki research, bisa memiliki kolaborasi bersama membangun inovasi sehingga bisa mendatangkan kebermanfaatan untuk bangsa ini. Tentunya diharapkan kemandirian bagi bangsa Indonesia, bisa kita sama-sama support dan kita wujudkan. Insha Allah dengan pertemuan ini kita bisa saling menginspirasi terutama untuk menjadikan Indonesia ini lebih baik,” ucapnya.

Prof. Dr. Arif Satria selaku Ketua Forum Rektor Indonesia juga menjelaskan bahwa pangan, energi dan air merupakan isu global dan kegiatan ini diselenggarakan untuk mencermati isu-isu pokok dalam menciptakan sustainable energi dengan baik. Perguruan tinggi memiliki tugas yang besar untuk mendorong terciptanya inovasi-inovasi.

“Lompatan-lompatan inovasi bisa terjadi kalau kita berorientasi pada future practices, sesuatu yang benar-benar baru. Dan saya yakin di perguruan tinggi terdapat orang-orang yang memiliki growth mindset yang sangat kuat sehingga bisa hadir dengan future practices.

Prof. Dr. Arif  juga mengatakan bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang sangat besar jika kita fokus pada future practices bukan based practices. Jika kita hanya fokus pada based practices, kita hanya akan meniru orang lain dan menjadi follower, sedangkan kalau kita hadir dengan future practices kita akan menjadi leader bahkan trendsetter perubahan.

Prof. Dr. Arif Satria menambahkan bahwa melalui kegiatan ini kita sebagai perguruan tinggi akan terus mendorong dan menginspirasi dalam menemukan hal baru khususnya di bidang energi. Dengan SDM yang memadai dan bonus demografi yang ada, Indonesia akan maju dengan kekuatan penuh.

Dr. Ego Syahrial selaku Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM yang hadir sebagai Keynote Speaker pada kegiatan ini menjelaskan bahwa kemajuan peradaban teknologi dan gaya hidup serta pertumbuhan ekonomi telah menyebabkan permintaan terhadap energi terus meningkat. Oleh karena itu pemerintah berkewajiban menyediakan energi dengan jumlah yang cukup, merata, terjangkau dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat dalam rangka mewujudkan energi yang berkeadilan.

“Pemanfaatan energi saat ini masih mengandalkan energi yang berbasis fosil yang sebagian diantaranya masih disubsidi pemerintah dan sebagian besar juga berasal dari import. Indonesia memiliki sumber daya energi termasuk minyak dan gas bumi walaupun sumber daya tersebut belum sepenuhnya dapat dikonversi menjadi cadangan,” ucapnya.

Indonesia memiliki energi baru terbarukan yang melimpah sebesar 417 GW yang terdiri dari samudera, gas bumi, bioenergi, bayu, hidro dan surya yang baru berhasil dimanfaatkan sebesar 2,5 persen. Selain itu, Indonesia memiliki sumber daya mineral yang melimpah, bahkan memiliki cadangan Nikel No. 1 di dunia.

Dr. Ego Syahrial juga mengatakan saat ini pemerintah fokus pada hilirisasi industri karena dapat mengurangi impor energi. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam seperti bauksit, batubara, kelapa sawit hingga ikan.

“Hilirasi industri batu bara menjadi Dimethyl Ether akan mengurangi impor jutaan tol gas minyak bumi yang dicairkan atau LPG setiap tahunnya. Saat ini pemerintah punya program B20 yang merupakan campuran kadar solar dan minyak sawit, itupun akan ditingkatkan lagi menjadi program B30 pada 2020. Jokowi menargetkan pembuatan B100 sebagai penggunaan energi dari dalam negeri.”

Dr. Ego Syahrial menambahkan secara total pasokan energi lebih besar dibandingkan kebutuhan dan surplus energi terjadi pada batu bara dan gas, sedangkan minyak bumi, BBM dan LPG masih defisit. Kebijakan energi kedepan fokus pada ketersediaan energi untuk pembangunan nasional melalui kebijakan prioritas untuk domestik, hilirisasi untuk peningkatan nilai tambah dan peningkatan produksi.

“Dengan diselenggarakannya kegiatan ini saya diharapkan dapat membuka pikiran kita dalam menghadapi tantangan energi dan sumber energi mineral saat ini terutama bagi para akademisi dan pelaku usaha industri.”

Tinggalkan Balasan