Telkom University Serahkan Empat Unit Biodigester Biogas kepada Peternak di Boyolali

Boyolali, 30 November 2025 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University (Tel-U) menyerahkan empat unit biodigester biogas untuk pengolahan limbah peternakan kepada masyarakat Dukuh Pokoh, Desa Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (30/11). Kegiatan ini menjadi penanda finalisasi program inovasi berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) yang berfokus pada pemanfaatan limbah peternakan sebagai sumber energi terbarukan yang sudah dibangun mulai dari Oktober 2025 lalu.

Penyerahan biodigester dilakukan langsung oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus Ketua Center of Excellence (CoE) of Sustainable Energy and Climate Change Telkom University, Prof. Dr. Ir. Jangkung Raharjo, M.T., kepada Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Dukuh Pokoh, Maryanto.

“Hari ini kami tidak hanya menyerahkan alat, tetapi juga memastikan bahwa teknologi ini benar-benar dapat dimanfaatkan dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat,” ujar Prof. Jangkung dalam kegiatan tersebut.

Berdasarkan hasil implementasi, sistem biodigester yang dipasang berfungsi sesuai dengan parameter desain awal. Dengan volume reaktor sekitar 6 meter kubik, setiap unit mampu menghasilkan biogas dengan estimasi produksi ±1–2 meter kubik per hari. Jumlah tersebut mencukupi untuk kebutuhan memasak rumah tangga dan berkontribusi pada penghematan penggunaan LPG hingga sekitar satu tabung setiap 10 hari.

Selain menghasilkan biogas, sistem biodigester juga memproduksi bio-slurry sebanyak ±10–20 liter per hari yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair. Pemanfaatan residu ini tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi bagi peternak, tetapi juga mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa biodigester berperan ganda sebagai penyedia energi terbarukan sekaligus bagian dari skema ekonomi sirkular di tingkat desa.

Dari sisi lingkungan, program ini berkontribusi signifikan dalam mengurangi limbah organik, menekan emisi gas rumah kaca (GHG), serta memperbaiki kualitas lingkungan melalui pengurangan bau dan potensi pencemaran air lindi. Proses pengolahan limbah ternak secara anaerob juga mencegah pelepasan gas metana secara langsung ke atmosfer.

Secara ekonomi, masyarakat memperoleh manfaat berupa penghematan biaya energi rumah tangga dan akses terhadap pupuk organik tanpa biaya tambahan. Sementara dari aspek sosial, program ini mendorong pemberdayaan kelompok ternak, meningkatkan literasi teknologi energi terbarukan, serta memperkuat kemandirian energi masyarakat. Dampak multidimensi tersebut menegaskan bahwa program ini selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan tujuan SDGs.

Ke depan, sistem biodigester ini berpotensi dikembangkan dengan dukungan teknologi digital, seperti integrasi sensor Internet of Things (IoT) untuk memantau tekanan gas, suhu, dan pH reaktor. Data operasional dapat ditampilkan melalui dashboard sederhana untuk mendukung monitoring jarak jauh dan pencatatan produksi biogas. 

Integrasi digital ini dinilai sejalan dengan kompetensi inti Telkom University dalam pengembangan ekosistem digital serta penguatan konsep smart village, guna meningkatkan keandalan dan keberlanjutan sistem biodigester di tingkat desa.

Sebagai informasi, Biodigester adalah sistem reaktor tertutup berbasis proses biokimia anaerob yang dirancang untuk mengkonversi limbah organik, termasuk kotoran sapi, menjadi energi terbarukan berupa biogas serta residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Proses ini melibatkan aktivitas mikroorganisme anaerob yang bekerja melalui empat tahapan utama, yakni hidrolisis, asidogenesis, asetogenesis, dan metanogenesis, dalam kondisi tanpa oksigen dengan suhu dan pH terkontrol.

Melalui penyerahan dan implementasi teknologi ini, Telkom University berharap masyarakat Dukuh Pokoh dapat mengelola limbah peternakan secara mandiri, berkelanjutan, dan bernilai tambah, sekaligus menjadi contoh penerapan energi terbarukan berbasis komunitas bagi wilayah lain.

Penulis: Abdullah Adnan | Editor: Adrian Wiranata | Foto: Public Relations 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Secret Link