StudyCompass: Startup Mahasiswa Telkom University yang Ingin Ubah Cara Belajar di Perguruan Tinggi

Telkom University – Tiga mahasiswa aktif Jurusan Teknik Komputer Universitas Telkom sedang mengerjakan sesuatu yang dapat mengubah cara jutaan mahasiswa Indonesia belajar. Mereka sedang bekerja di balik kesibukan ruang kuliah universitas. StudyCompass, sebuah platform pendidikan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dibuat oleh IntuitLearn, membantu siswa memahami dan mengejar materi kuliah dengan cara yang sesuai dengan kurikulum kampus.

Bukan sekadar aplikasi pendidikan standar. StudyCompass membantu siswa memahami situasi mereka, memahami ketertinggalan mereka, dan tumbuh bersama komunitas mereka.

Berawal dari Masalah Nyata di Bangku Kuliah

StudyCompass tidak berasal dari ruang ide yang besar. Ia berasal dari observasi sederhana: banyak teman kuliah yang mengalami kesulitan mempelajari mata kuliah teknik dasar, tertinggal kelas karena sakit, tidak dapat mengatur waktu, atau terlalu sibuk dengan kegiatan di  luar kampus.

“Banyaknya teman kami yang belum menemukan alasan ‘kenapa?’ yang dapat menjadi bahan bakar mereka untuk belajar dengan jujur dan sungguh-sungguh,” ungkap Muhammad Nadhif Auliya Zaki, salah satu pendiri sekaligus Software Engineer StudyCompass.

Selain ketertinggalan sementara, tim StudyCompass juga memperhatikan dampak jangka panjang dari masalah ini. Tingkat kegagalan yang tinggi di mata kuliah fundamental memengaruhi mata kuliah lainnya. Setelah satu mata kuliah tidak dipahami dengan baik, mata kuliah berikutnya menjadi lebih kompleks ketidakpahamannya. Inilah yang mendorong mereka untuk langsung bertindak, tidak hanya mengeluh.

Apa Itu StudyCompass? Lebih dari Sekadar Aplikasi Belajar

StudyCompass dikenal sebagai platform pembantu belajar yang terintegrasi dengan kurikulum kampus dan rangkaian alat yang dapat digunakan oleh institusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Kekuatan utama platform ini terdiri dari empat hal.

Pertama, pengalaman belajar berukuran kecil seperti Duolingo. Agar siswa mendapatkan pemahaman yang lebih mudah dan menyenangkan tentang fenomena yang dipelajari, StudyCompass menyediakan konten dalam format visual yang ringkas dan interaktif.

Kedua, layanan yang mengejar ketertinggalan berbasis kecerdasan buatan. StudyCompass memiliki asisten belajar AI yang terintegrasi langsung dengan kurikulum sekolah. Ini memungkinkan siswa untuk mengetahui progres KBM nyata yang sedang berlangsung di kelas. Artinya, AI ini tidak memberikan saran umum karena ia tahu persis apa yang dipelajari siswa dan apa yang belum. Akibatnya, itu dapat memberikan solusi yang jauh lebih spesifik.

Ketiga, halaman komunitas yang menarik Mahasiswa dapat menemukan berbagai konten yang menginspirasi dalam bentuk tulisan, video, studi kasus, dan lain-lain di sini. Konten-konten ini dimaksudkan untuk meningkatkan keinginan mereka untuk belajar dari dalam.

Keempat, forum diskusi yang melibatkan siswa dari satu fakultas. StudyCompass memberikan ruang aman di mana siswa dapat berbicara tentang materi kuliah mereka dengan rekan-rekan seperjuangan.

Mengapa Pendekatan Personal Itu Penting?

StudyCompass tidak dimaksudkan untuk berfungsi sebagai pengganti kelas perkuliahan konvensional. Sebaliknya, ia datang untuk menyelesaikannya. Pacing problem, variasi pondasi awal, dan kecepatan pemahaman masing-masing siswa tidak dapat dipenuhi dalam lingkungan kelas yang seragam karena keterbatasan intrinsik kelas KBM.

Di sinilah StudyCompass berfungsi untuk mengisi celah tersebut. Platform ini membantu siswa belajar sesuai ritme mereka sendiri tanpa merasa malu tertinggal atau terburu-buru mengejar karena mendeteksi kesenjangan pemahaman dan progres belajar yang bersifat individual. 

Tim Muda dengan Mimpi Besar

Saat ini, StudyCompass sedang dibangun oleh tiga mahasiswa Telkom University: Alya Febriana Cipta sebagai CMO dan Manajer Proyek, Muhammad Nadhif Auliya Zaki sebagai Engineer Software, dan Riyadhul Jinan Nasution sebagai Engineer Frontend. Tim ini bekerja sesuai keahlian masing-masing sambil terus meningkatkan komitmen tim yang sehat.

Selain itu, menariknya, StudyCompass saat ini membuka diri untuk siapa saja yang ingin bergabung sebagai founder dan membantu memperluas platform. sebuah tindakan yang menunjukkan semangat kerja sama yang mendasari produk mereka.

Lebih dari Produk, Sebuah Gerakan Budaya

StudyCompass berbeda karena visi di baliknya, bukan hanya fiturnya. Dunia konten sains berbahasa Inggris, yang terdiri dari platform seperti Brilliant.org, CuriosityStream, dan kreator konten seperti Veritasium dan Vsauce, telah memberikan inspirasi bagi tim ini.

Namun demikian, hanya sekitar 15 persen orang Indonesia yang fasih berbahasa Inggris, menurut penelitian. Indonesia tidak dapat mengakses konten pendidikan berkualitas tinggi karena hambatan bahasa. StudyCompass melihat hal ini sebagai peluang besar untuk membangun ekosistem Bahasa Indonesia yang sebanding.

“Kami ingin merubah pandangan mahasiswa terhadap mata kuliah yang mereka pelajari menjadi sebuah ikhtiar mulia untuk memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, memahami ciptaan Yang Maha Agung,” ujar Nadhif dengan penuh keyakinan. “Transformasi sosial yang besar berasal dari dalam. Inovasi keluar tidak dapat menimbulkan dampak yang besar apabila tidak dibarengi dengan transformasi diri.”

Status Pengembangan dan Langkah ke Depan

StudyCompass masih dalam tahap pengembangan aktif saat ini. Konten yang tersedia disesuaikan dengan materi teknik yang dipelajari oleh pengembangnya sendiri, seperti elektronika dan pengolahan sinyal waktu kontinu.

Tim memiliki rencana untuk melakukan uji coba pengguna awal dalam skala kecil di program studi S1 Teknik Komputer di Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom. Sebelum berekspansi ke kampus-kampus lain di Indonesia, ini merupakan langkah awal yang dilakukan tim StudyCompass.

Meskipun belum ada uji pengguna resmi, tim menyatakan bahwa mereka memiliki kecocokan pencipta dengan pasar dan merasakan manfaat dari produk yang sedang mereka buat dan terus mengembangkannya untuk menjadi lebih efektif.

Pesan untuk Mahasiswa yang Merasa Tertinggal

Tim StudyCompass menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: “Jangan menyerah, terus mencoba.” Ini ditujukan kepada siswa yang saat ini menghadapi kesulitan untuk mengejar ketertinggalan.

StudyCompass adalah lebih dari sekadar startup. Ini mencerminkan keberanian yang ditunjukkan oleh tiga mahasiswa muda dari Universitas Telkom yang percaya bahwa perubahan besar di dunia pendidikan Indonesia dapat dimulai dengan tindakan kecil, seperti memperhatikan teman dan masalah yang ada di sekeliling mereka.

Penulis: Genie Chiara Diva Putri Gunawan| Editor: Abdullah Adnan | Foto: Public Relations

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Secret Link