Pameran Seni Nyawang Rasa: Merasakan Keindahan Budaya Desa Baros dengan Seluruh Indera

Pameran Seni Nyawang Rasa Merasakan Keindahan Budaya Desa Baros dengan Seluruh Indera

Bandung, 24 Februari 2025 โ€” Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University (Tel-U) menyelenggarakan pameran seni bertajuk “Nyawang Rasa”, yang mengusung tema “Ciri Sabumi Cara Sadesa”. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Desain Survey yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa FIK dalam eksplorasi budaya dan tradisi masyarakat Desa Baros, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pameran ini berlangsung di Galeri Idealoka FIK Tel-U pada 24-28 Februari 2025.

Pembukaan pameran โ€œNyawang Rasaโ€ turut dihadiri oleh Dekan FIK, Dr. Roro Retno Wulan, S.Sos, M.Pd.; PIC Desain Survey, Lira Anindita Utami, Ph.D.; Perwakilan Desa Baros, Aguh Nugraha; Unit Kebudayaan, Kang Sobar; Ketua Kelompok Keahlian ENVISCO, Riky Azharyandi Siswanto, S.Ds., M.Ds., Ph.D.; serta Kepala Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bandung, Vena Andriawan, S.STP., M.Si.

Selama menjalani program MBKM Desain Survey di Desa Baros selama 3 bulan, mahasiswa mengembangkan karya seni yang merepresentasikan tradisi lokal yang ditemukan di lingkungan Desa Baros. Nyawang Rasa menggambarkan pengalaman di Desa Baros dapat menjadi pintu untuk mengenal lingkungan dan diri sendiri melalui harmoni rasa.??Seluruh karya yang ditampilkan merupakan representasi dari tradisi lokal, keberagaman budaya, serta tantangan yang dihadapi masyarakat setempat dalam menjaga lingkungan dan warisan budayanya.

Dalam sambutannya, Dekan FIK, Dr. Roro Retno Wulan, menyampaikan bahwa Program Desain Survey dalam skema MBKM tidak hanya berfokus pada hasil karya desain sebagai output akhir, tetapi juga menekankan proses eksplorasi yang lebih luas dalam memahami dan merancang solusi kreatif berbasis budaya dan sosial.

“Program ini bukan sekadar menghasilkan sebuah karya desain, tetapi lebih dari itu, kami ingin membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi berbagai perspektif budaya dan sosial. Melalui pendekatan kolaboratif antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat, kami berharap karya-karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mampu menginspirasi serta memberikan dampak nyata bagi pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif di tingkat lokal maupun nasional,” ungkap Dr. Roro.

Dalam pameran ini, pengunjung akan diajak merasakan pengalaman “5 Senses Experience”, yaitu konsep interaktif yang melibatkan kelima indera manusia untuk memahami lebih dalam esensi budaya dan tradisi masyarakat Desa Baros. Instalasi karya seni, dokumentasi eksplorasi desain, serta produk kreatif berbasis budaya lokal menjadi daya tarik utama dari pameran ini.

Selain itu, pameran ini juga memperkenalkan seni musik tradisional Baros yaitu, โ€œTarawangsaโ€. Para penampil menampilkan seni musik lengkap dengan tata cara upacara yang sederhana dengan alunan musik yang dapat dinikmati banyak kalangan. Suara khas dari Tarawangsa yang dipadukan dengan Kecapi ini serta penampilan tarian dapat membuat keheningan di tengah para audiens yang turut menikmati alunan musiknya. 

Dalam sambutan Kepala Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bandung, Vena Andriawan, menyatakan bahwa hasil-hasil karya kreatif kolaborasi seperti ini sangat membuahkan hasil untuk kenaikan jumlah pengunjung pariwisata di Kabupaten Bandung. 

“Hasil karya kreatif seperti ini bukan hanya memiliki nilai seni, melainkan berhasil meningkatkan jumlah wisatawan di Kabupaten Bandung. Para wisatawan dapat langsung diarahkan ke Baros sebagai salah satu pilihan wisata, yang tentunya berhasil membuat Baros menjadi tujuan utama untuk pariwisata di Kabupaten Bandung,” ungkap Vena.

Berkolaborasi dengan Forum Bebenah Lemah Cai dan Karang Taruna Desa Baros, pameran ini juga turut mendukung pelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Dengan terselenggaranya Pameran Nyawang Rasa, diharapkan masyarakat semakin menyadari pentingnya melestarikan budaya dan tradisi lokal sebagai warisan yang tak ternilai. Lebih dari sekadar pameran seni, acara ini menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami bahwa budaya bukan sekadar peninggalan, tetapi juga identitas yang harus terus dirawat dan dikembangkan sesuai dengan zaman.

Penulis: Naufal Fakhri Setiawan | Editor: Adrian Wiranata | Foto: Narasumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *