23 Oct 2014

Dosen Perlu Paham Tradisi di Redaksi Jurnal Ilmiah

BANDUNG, TEL – U – Tidak mudah menulis artikel agar bisa dimuat di jurnal ilmiah. Apalagi yang sudah masuk ke dalam database artikel publikasi internasional semacam Scopus. Karena itu, salah satu cara agar tulisan artikel bisa dimuat, perlu ada upaya dari penulis untuk memahami tradisi yang berlangsung di jurnal yang dituju.

Hal ini disampaikan oleh Dedy Sushandoyo, Ph.D, saat memberikan materi pada Seminar Tips dan Trik Menulis Jurnal yang digelar oleh Fakultas Komunikasi dan Bisnis (FKB) di Aula FKB, Senin (20/10). Menurut Dedy, dalam artikel ilmiah, seringkali muncul Literature Gap.

“Artinya editor jurnal yang kita tuju berharap ada value yang kita tawarkan kepadanya. Kita tidak bisa menulis apa yang kita mau tanpa menghiraukan apa yang diinginkan oleh jurnal ini. karena mereka sudah punya tradisi kuat bertahun-tahun lamanya,” ujar Dedy.

Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) ini menambahkan para penulis atau peneliti juga harus terus berusaha mengembangkan tulisan yang sederhana menjadi tulisan yang memiliki angle (sudut pandang) yang berbeda. “Jadi, meski tempat penelitiannya di Dayeuhkolot, tapi bisa lolos di jurnal karena ada angle yang menarik,” katanya.

Seminar berbagi tips dan trik ini digelar oleh FKB untuk mendorong minat menulis khususnya di kalangan dosen.”Hingga kini, belum ada satu pun tulisan dosen FKB yang dimuat di Scopus Index. Padahal meski FKB merupakan fakultas termuda di Tel-U, tapi bukan berarti karyanya paling bontot,” ujar Dekan FKB Dr. Jafar Sembiring M.Ed.M.

Dekan berharap dosen tambah bersemangan untuk menulis artikel dan mempublikasikannya di jurnal internasional. “Setelah ini tak ada lagi seminar atau pelatihan tentang menulis artikel. Sekarang sudah saatnya kita praktik menulis dan saya tunggu karya-karya dari para dosen,” ujarnya. (purel/raf)

Previous Article Next Article

Leave a Reply