09 Dec 2016

Dua Tim Tel-U Berhasil Raih APICTA Award 2016

BANDUNG, TEL-U – Prestasi internasional kembali diraih Telkom University (Tel-U). Kali ini Tel-U mengukir nama pada ajang APICTA (Asia Pacific ICT Alliance) Award 2016 yang diikuti oleh 17 Negara Asia Pacific di The Grand Hotel, Taipei Taiwan 2-5 Desember 2016. Mereka meraih perghargaan kategori Tertiary Student Project.

APICTA merupakan aliansi dari organisasi ICT yang membangun dan meningkatkan jaringan guna meningkatkan kerjasama dalam bidang ICT serta meningkatkan inovasi teknologi serta mendorong pengembangan ICT untuk pasar global.

Acara ini sudah diadakan sejak tahun 2001 dan kali ini diikuti oleh 200 tim dari 17 negara di Asia Pasifik. Indonesia sendiri menurunkan 8 tim, dua di antaranya berasal dari Tel-U, sedangkan sisanya antara lain dari UGM, ITS, Amikom, Unikom.

APICTA Awards merupakan program penghargaan internasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran ICT dalam masyarakat dan membantu menjembatani kesenjangan digital. Program ini dirancang untuk merangsang inovasi ICT dan kreativitas, meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan, memfasilitasi transfer teknologi, dan menawarkan peluang bisnis yang cocok melalui paparan kapitalis ventura dan investor.

Menurut Ketua Tim Hoome, Dody Qori Utama, ST,MT, dua tim dari Tel-U terdiri dari Tim Hoome yang beranggotakan Masyithah  Nur Aulia, Annisa Riyani, Azka Khoirunnisa, Andika Pradana Arif Wicaksono, dan Rezka Bunaiya Prayudha. Sedangkan Tim Jantung beranggotakan Dr Satria Mandala sebagai ketua, dengan anggota Muhammad Alif Akbar, Shamila, Lusi Husriana Nova, Ihda  Husnayain, Hasbi Rabbani, dan Qhansa Di’Ayu Putri Bayu.

“Kami berhasil meraih Merit Award kategori Tertiary Student Project. Merit Award adalah penghargaan kepada tim yang memiliki selisih point penilaian yang kecil terhadap award atau mungkin umum dibilang sebagai runner up atau medali perak,” ucap Dody, Kamis (9/12).

Dody menceritakan product yang dikerjakan oleh tim Hoome merupakan rumah pintar pertama yang mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi dan kenyamanan penggunanya. Berbeda dengan rumah pintar yang ada selama ini, Hoome akan menyebar sensor pada pengguna, bukan pada lingkungannya. Kondisi user seperti tingkat stress, kondisi mood, kesadaran, tingkat kenyamanan dan lain-lain akan direkam oleh wearable device.

“Kami menggunakan tiga wearable device yaitu EEG, EMG, dan smartwatch. Setelah mendapatkan kondisi user, aplikasi akan mengatur peralatan di dalam rumah, seperti mengatur pencahayaan, suhu dan temperatur, aroma terapi, serta TV atau home entertainment di rumah tersebut,” katanya.

Dodi berharap ide tersebut bisa diterapkan di masyarakat guna menerapkan smart home yang sesungguhnya. “Kami berharap bahwa ide kami diterapkan dan tidak berakhir di perpustakaan atau media saja,” katanya. (PR/AW)

Previous Article Next Article

Leave a Reply