26 Nov 2014

Ishadi SK dan Cerita Seputar Industri Media

BANDUNG, TEL – U – Komisaris Utama Trans Corp Dr. Ishadi Soetopo Kartosapoetro, M.Sc atau yang lebih dikenal dengan Ishadi SK berbagi pengalaman seputar dunia televisi yang telah digelutinya puluhan tahun. Pengalaman ini dikupas dalam acara Leaders Talk Episode 2 yang digelar Telkom University, Rabu (26/11).

Bertema “Strategic Leadership in The Media Industry (Kepemimpinan Strategis di Industri Media)”, Leaders Talk kali ini dihadiri oleh peserta dari berbagai profesi mulai mahasiswa, dosen, pejabat pemerintah, praktisi bank, BUMN, hingga perwira TNI.

“TV adalah passion saya semenjak kecil. Saya seringkali dianggap sebagai seseorang yang paling ahli di bidang pertelevisian. Padahal, sebenarnya karena Saya sudah lama nyemplung di industri ini. Pengalaman. Barangkali, saya orang yang paling tua di ruangan ini,”ujar Ishadi.

Acara bedah buku “Media dan Kekuasaan : Televisi Di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto” ini tak sekedar sesi sharing bagi Pak Ishadi, tetapi sekaligus sebagai kilas balik perjalanan hidupnya semenjak puluhan tahun lalu mengawali karir profesionalnya semenjak masih berada di TVRI.

“Saya menulis dua buah buku yaitu terkait media dan kekuasaan. Karena buku ini ‘keras’, saya merasa harus menyeimbangkannya dengan yang lebih soft. Maka, saya menulis buku kedua yang merupakan kumpulan puisi. Salah satunya ada kumpulan puisi untuk istri saya,” kata pria yang sudah malang-melintang di industri media semenjak tahun 1967 itu.

Menurut Ishadi, buku ini dibuat berdasarkan disertasi doktoralnya. Buku itu tersebut lahir dari proses penelitian kualitatif terkait pengalamannya di newsroom. Bagaimana pergolakkan idealisme, aspek bisnis, dan kepentingan pemilik media tak jarang bersinggungan di dalamnya. Namun menurutnya, pada prakteknya, para jurnalis dan pemilik media saling membutuhkan.

“Pemilik media butuh pemberitaan agar bisnis atau citranya naik, sementara jurnalis butuh wadah untuk menyalurkan gagasan dan karyanya,” katanya.

Leaders Talk kali ini juga menghadirkan tiga panelis yaitu Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, (Mantan Direktur Utama LKBN Antara, kini Dosen Eksekutif Program MBA, Sekolah Bisnis, Binus), Dr. Dadang Rakhmat Hidayat (Mantan Ketua KPI Pusat sekarang Kaprodi Jurnalistik Fikom Unpad), dan Dr Harliantara (Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Bisnis Telkom University, yang sudah malang melintang di dunia penyiaran).

“Sentilan” pedas sempat dilontarkan oleh salah satu panelis, Dr. Harliantara. Menurut dia, jangan-jangan kebanyakan wartawan itu tidak loyal. “Karena mereka seringkali berpindah-pindah tempat pekerjaan dari media satu ke media yang lain,” katanya.

Ishadi menjawab hal tersebut bisa saja terjadi karena beberapa sebab. Sudah tidak sejalan dengan pemimpin media bisa menjadi salah satu penyebabnya, meski bukan alasan satu-satunya. Baginya, pengalaman ikut berperan dalam perkembangan kompetensi seseorang. Setidaknya menurut pengalamannya saat berkecipung di industri media.

“Pernah suatu ketika, anak buah saya yang saya gaji 5 juta dibajak oleh TVOne yang waktu itu baru saja berdiri. Dia berkonsultasi dengan saya, sebaiknya bagaimana. Apakah pindah atau tidak. Digaji berapa kamu? 25 juta Pak! Katanya. Kalau memang kamu dibayar sebesar itu dan sanggup bekerja secara profesional (sesuai dengan bayarannya) silakan saja. Itu hak Anda!”, katanya.

Bimantoro Kushari, Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Angkatan 2011 yang ikut hadir dan bertanya pada pembicara memberikan tanggapan positif terkait acara tersebut. “Sangat gamblang penjelasannya. Pak Is menceritakan hampir semua pengalamannya dengan sangat rinci. Saya sangat terinspirasi.”, ungkapnya.

Rektor Telkom University, Prof. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng., Ph.D. mengatakan, melalui Leaders Talk ini para peserta diharapkan dapat merumuskan berbagai solusi untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. “Kami menghadirkan CEO yang berkualitas agar output dari acara ini kami harapkan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi bangsa Indonesia,” ujarnya. (purel/nando)

Previous Article Next Article

Leave a Reply