18 May 2016

Jendela Dunia bagi Anak-anak Kampung Cihurip

BANDUNG, TEL-U – Matahari hampir terbenam di Kampung Cihurip Desa Cempakasari Kecamatan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Namun sejumlah warga dan anak-anak tampak masih berkumpul di SDN Kahuripan. Kabar beredar bahwa hari itu, Jumat (13/5), kampung mereka akan kedatangan tamu dari Bandung yang ingin berbagi pengetahuan. Ya, pengetahuan. Bagi kampung terpencil dengan akses transportasi seperti Cihurip, pengetahuan merupakan barang mewah yang sulit untuk didapatkan.

Tepat sebelum adzan Maghrib berkumandang, rombongan kecil itu akhirnya tiba. Mereka adalah tim Telkom University (Tel-U) yang terdiri dari pengurus Perpustakaan dan dosen, serta relawan pendidikan dari Cakrawala Baca. Gurat lelah tampak jelas di wajah mereka. Maklum, untuk mencapai Kampung Cihurip, rombongan harus menempuh perjalanan lebih dari enam jam dengan medan yang sangat sulit. Namun, rasa lelah itu langsung lenyap ketika menyaksikan antusiasme warga atas kedatangan mereka.

Di tempat ini tim Tel-U menggelar kegiatan pengabdian masyarakat (abdimas) berupa perbaikan ruang gudang untuk difungsikan sebagai perpustakaan sekolah yang dimulai pada awal Mei lalu. Acara puncak abdimas berlangsung selama dua hari, yang dimeriahkan oleh kegiatan donasi buku, storytelling, serta belajar dan bermain bersama. Anak-anak juga diajak untuk menuliskan cita-citanya di atas sebuah backdrop yang dipajang di dinding perpustakaan, sehingga menjadi sebuah janji bersama untuk mereka tepati di masa depan.

Menurut Kepala Sekolah SDN Kahuripan Teti Rosnawangsih (53), bantuan-bantuan seperti ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak dan warga Kampung Cihurip untuk mendukung proses belajar-mengajar, sekaligus membuka cara berpikir anak menjadi lebih luas. Pasalnya, warga Cihurip kesulitan mengakses sumber-sumber pengetahuan, akibat lokasi yang terpencil.

“Sebelum ini kami baru bisa menyediakan buku pelajaran untuk anak-anak. Sementara untuk buku lain seperti buku bacaan bergambar, kami tidak punya. Koleksi buku juga kami simpan di ruang guru karena keterbatasan ruangan sehingga anak-anak segan untuk mengakses buku,” ujarnya.

Dengan difungsikannya ruang gudang menjadi perpustakaan, anak-anak jadi lebih leluasa membaca buku. Selain itu, ruangan berukuran 8×6 meter itu juga kini berfungsi sebagai tempat bermain anak-anak pada saat istirahat.

Aprian (7), salah seorang murid SDN Kahuripan mengaku senang dengan adanya ruang perpustakaan ini. Dia berjanji akan menjaga buku-buku koleksi perpustakaan agar tidak hilang dan rusak. Bahkan Arum (5) gadis kecil yang belum menjadi murid SDN Kahuripan tampak bergabung dengan murid-murid mengambil dan membuka-buka buku. Dia hanya tersenyum mengangguk ketika ditanya apakah dia menyukai gambar-gambar dalam buku yang dibukanya.

Kepala Perpustakaan Tel-U Nurul Fitria mengaku terharu dengan sambutan warga dan murid-murid SDN Kahuripan yang begitu antusias. Menurut dia, berbagi pengetahuan dengan warga di daerah menjadi pengingat bahwa pekerjaan mencerdaskan kehidupan bangsa masih sangat jauh dari selesai.

“Perlu kerjasama dari berbagai elemen untuk mewujudkan Indonesia cerdas yang merata. (Karena itu) hari ini kami datang tidak sendiri tapi berkolaborasi dengan dosen, lembaga pengabdian masyarakat, komunitas pendidikan, serta donatur buku seperti Asia Foundation dan penerbit,” ujarnya.

Nurul menyebut kegiatan ini sebagai “riak” kecil dari sebuah gelombang besar upaya literasi global. Namun, dia berharap Te-U dapat tetap konsisten melakukannya sehingga lebih banyak lagi anak-anak seperti Aprian dan Arum yang dapat turut menikmati pengetahuan baru kendati mereka berada di daerah yang sulit dijangkau. (purel/lib)

Previous Article Next Article

Leave a Reply