26 Sep 2014

Kesampingkan Ego Paradigma, Utamakan Mahasiswa

BANDUNG, TEL, U – Perbedaan paradigma dalam penelitian merupakan satu hal yang wajar di dunia ilmiah. Namun tidak jarang perbedaan itu menjadi meruncing dan memantik konflik di antara para peneliti, termasuk dosen. Akibatnya, mahasiswa yang sedang dibimbing untuk mengerjakan tugas akhir atau skripsi menjadi korban perbedaan paradigma ini.

Demikian salah satu pemikiran yang dikemukakan dalam Sharing Session Metodologi Kualitatif yang digelar di Fakultas Komunikasi dan Bisnis Telkom University (FKB Tel-U), Selasa (23/9). Tampil sebagai pembicara dalam acara itu, Prof. Tjetjep Rohendi Rohidi, Guru Besar Antropologi Seni pada Jurusan Seni Rupa FBS, Universitas Negeri Semarang.

Menurut Prof Tjetjep, para peneliti di bidang sosial-budaya perlu satu wawasan yang luas dan terbuka untuk memahami berbagai pendekatan dalam mengkaji masalah-masalah sosial-budaya yang semakin kompleks di masyarakat dewasa ini. “Karena itu, ibu bapak dosen perlu mengetahui baik pendekatan kuantitatif maupun kualitatif sebagai perangkat penelitiannya, dan paham pula secara mendalam desain dan prosedur penelitiannya yang berlapis-lapis,” katanya.

Jika sudah paham kedua pendekatan atau paradigma itu, kata Prof Tjetjep, ego setiap peneliti atau dosen yang sedang membimbing mahasiswanya bisa ditekan. “Diskusi tentang perbedaan pendekatan ini penting, tapi jangan sampai mengorbankan mahasiswa, kan kasihan (mahasiswanya),” kata Ketua Program Studi S2/S3 Pendidikan Seni itu.

Pada sharing session yang berlangsung sekitar tiga jam itu, antusiasme dosen FKB baik dari Prodi Ilmu Komunikasi maupun Administrasi Bisnis sangat tinggi. Mereka tampak bersemangat mengajukan pertanyaan kepada Prof Tjetjep bahkan seusai acara ini ditutup. (purel/raf)

Previous Article Next Article

Leave a Reply