Mengenal Peran Media Sosial sebagai Pembentuk Opini Massa

Telkom University, 23 Januari 2026 – Di era teknologi  informasi saat ini, media sosial telah menjadi pusat interaksi digital di seluruh dunia. Teknologi ini bukan lagi hal baru bagi Telkom University (Tel-U). Setiap hari, para civitas academica Tel-U berinteraksi dengan berbagai platform digital untuk berbagi ide dan pendapat mereka. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan media sosial dan bagaimana ia bekerja dalam memengaruhi pikiran kita?

  1. Pengertian Media Sosial di Era Teknologi Informasi

Media sosial adalah platform yang berperan sebagai wadah untuk individu berbagi konten secara real-time, menambah teman atau pengikut dan membuat profil pribadi. Media sosial dirancang untuk memfasilitasi komunikasi dua arah, di mana pengguna tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat membuat konten dari berbagai pengalaman individu yang telah  dilewati.

Bagi TelUtizen, peran platform media sosial seperti Instagram, TikTok, X hingga LinkedIn bukan sekadar media hiburan, melainkan sebagai wadah untuk bertukar ide kreatif dan membangun jejaring profesional. 

  1. Apa yang dimaksud dengan Opini Masyarakat ?

Opini masyarakat juga dikenal sebagai opini publik yang merupakan kumpulan sikap, pandangan, dan kepercayaan yang diyakini oleh mayoritas orang tentang suatu masalah. Faktor-faktor yang mempengaruhinya, yakni: 

  • Lingkungan Sosial: Tempat di mana kita tinggal dan memperoleh pengetahuan.
  • Konsumsi Media: Informasi yang terus-menerus diterima.
  • Interaksi Digital: Percakapan yang terjadi di grup chat atau kolom komentar.

Media sosial memiliki peran dalam menyebarkan informasi secara cepat dan luas. Dalam hitungan menit, sebuah masalah lokal dapat menjadi perdebatan nasional. Instagram dan X misalnya, seringkali menjadi sumber pertama TelUtizen untuk mengetahui tren terbaru di kampus dan di seluruh dunia.

  1. Pengaruh Media Sosial terhadap Pembentukan Opini 

Media sosial memiliki peran dalam menyebarkan informasi secara cepat dan luas. Dalam hitungan menit, sebuah masalah lokal dapat menjadi perdebatan nasional. Instagram dan X misalnya, seringkali menjadi sumber pertama TelUtizen untuk mengetahui tren terbaru dalam lingkungan masyarakat. 

Beberapa cara media sosial memengaruhi pemikiran setiap individu adalah dengan hal-hal sebagai berikut: 

  • Kekuatan Algoritma: Platform sering menampilkan konten yang sesuai dengan minat kita, yang dapat secara tidak sadar mendorong pendapat tertentu
  • Viralitas: Konten viral sering dianggap sebagai kebenaran umum, tetapi mungkin tidak akurat.
  • Platform Profesional: LinkedIn berkontribusi pada pemahaman masyarakat tentang kredibilitas profesional dan dunia kerja.
  1. Pentingnya Literasi Digital bagi Seluruh Masyarakat

Literasi digital adalah kunci utama untuk tetap kritis di tengah gempuran teknologi informasi. Literasi bukan hanya soal mahir menggunakan aplikasi, tetapi kemampuan untuk:

  • Menyaring Informasi: Membedakan antara fakta, opini, dan hoaks.
  • Berpikir Kritis: Tidak mudah terprovokasi oleh judul berita yang menggemparkan.
  • Verifikasi Sumber: Memastikan informasi berasal dari portal berita online yang terpercaya dan akurat. 
  1. Tanggung Jawab Pengguna dan Media dalam Menjaga Kualitas Informasi

Menciptakan ekosistem digital yang sehat bukan hanya tugas penyedia platform, melainkan tanggung jawab kolektif antara pembuat konten dan penggunanya:

  • Media Sosial: Sebagai sumber informasi utama, media sosial memiliki kewajiban moral untuk menyajikan isi atau konten yang akurat, berimbang, dan tidak bias. Hal ini mencakup proses verifikasi fakta yang ketat sebelum mengunggah konten, menghindari penggunaan judul yang bersifat clickbait (menyesatkan), serta mengedepankan etika dalam format digital. 
  • Pengguna: Sebagai masyarakat digital yang cerdas ( Smart Digital Citizen ), kita harus berada di garis terdepan dalam memutus rantai informasi palsu.

Dengan mulai membiasakan literasi yang kuat, harapannya media sosial dapat menjadi sarana positif dalam membangun opini masyarakat yang cerdas dan konstruktif. Hal ini sangat relevan bagi TelUtizen yang kini tidak hanya memanfaatkan platform digital untuk kebutuhan akademik, tetapi juga menjadikannya sebagai ruang diskusi yang dinamis di lingkungan kampus. 

Penulis: Belinda Fransisca Bunadi | Editor: Adrian Wiranata | Foto: Public Relations

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link