15 Jun 2016

Netty Heryawan Ajak Mahasiswi Bangun Jejaring Melawan Kekerasan

BANDUNG, TEL-U – Kepala Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jabar Dr Hj Netty Prasetiyani Heryawan mengajak mahasisiwi Indonesia untuk membangun jejaring dalam melawan kekerasan terhadap perempuan yang selama ini marak di Indonesia.

“Semoga kita memiliki konsep diri yang utuh termaksud membangun kepantasan dalam konteks kapasitas, pengetahuan, sikap, dan pilihan tindakan, termaksud aktif dalam kegiatan sosial dan jangan takut untuk membangun jejaring,” katanya.

Pernyataan Netty disampaikan di depan mahasiswi perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang mengadakan konsolidasi nasional forum perempuan BEM SI di Aula Fakultas Industry Kreatif Telkom University (FIK Tel-U). Acara Bertema “Perempuan Cerdas Melawan Indonesia Darurat Kekerasan pada Perempuan dan Anak” ini berlangsung selama dua hari mulai 13-14 Juni.

Menurutnya, dalam UU No 23 Tahun 2004 disebutkan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termaksud ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan, perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga, itu namanya kekerasan.

“Kejahatan terhadap perempuan itu seperti pohon kekerasan, sedangkan faktor pemicunya seperti minuman beralkohol, pornografi dan sebagainya, itu adalah akarnya yang dapat tumbuh menjadi pelecehan seksual, kekerasan dan penganiayaan,” ucapnya.

Hadir pula dalam acara ini Anggota DPRD Jawa Barat sekaligus aktivis perempuan Hj Diah Nurwitasari. Diah mengajak para srikandi yang hadir mampu mengkritisi, berfikir, mencari solusi dan menyalurkan ide serta gagasannya agar permasalahan seperti kekerasan terhadap perempuan ini bisa cepat teratasi.

Koordinator wilayah BEM SI Jawa Barat (Jabar) M Guntur Purwanto menjelaskan bahwa ada 3 tagline semangat perjuangan yang digelorakan oleh kementrian perlindungan perempuan dan anak.“Yaitu mengakhiri kasus kekerasan kepada perempuan, mengakhiri kasus diskriminasi ekonomi kepada perempuan, dan mengakhiri perdangangan perempuan (human trafficking),” ucapnya.

Rektor Tel-U Prof Ir Mochamad Ashari, M Eng, Ph.D mengatakan perempuan Indonesia punya kemampuan yang luar biasa. Data dari setiap HRD di perusahaan-perusahaan besar dan BUMN di Indonesia menyebutkan lebih dari 50 persen yang memenuhi kualifikasi di perusahaan besar dan BUMN adalah perempuan.

“Saya yakin perempuan Indonesia mampu menyelesaikan masalah (kekerasan) terhadap perempuan karena perempuan Indonesia memiliki kemampuan yang luar biasa,” ucapnya.

Rektor berharap agar dari pertemuan ini suara dari srikandi-srikandi ini akan didengar dan bisa menghasilkan kebijakan-kebijakan yang mampu bisa mengakhiri kekerasan perempuan di Indonesia. “Mudah-mudahan kegiatan kita hari ini akan membawa suatu langkah untuk menuntaskan tiga tagline yang sempat disebutkan oleh saudara Guntur Purwanto tadi,” katanya. (purel/aw)

Previous Article Next Article

Leave a Reply