31 Aug 2016

Perguruan Tinggi Harus Siap Layani Masyarakat Dunia

BANDUNG, TEL-U  –Jika perguruan tinggi (PT) ingin bertahan dalam persaingan, harus mempunyai pasar yang tersedia (captive market). Namun di abad ke 21 ini PT tidak bisa menutup diri dan bergantung pada captive market saja. Perguruan tinggi harus juga melayani masyarakat bahkan masyarakat dunia, karena pendidikan merupakan hak asasi manusia,

Itulah salah satu simpulan yang dihasilkan dari penelitian Imanuddin Hasbi, ST, MM, dosen Program Studi Administrasi Bisnis Fakultas Komunikasi dan Bisnis Telkom University (Prodi Adbis FKB Tel-U), saat mempresentasikan disertasinya, Kamis (18/8).

Disertasi berjudul “Manajemen Pemasaran Perguruan Tinggi (Studi tentang Pasar, Bauran Pemasaran, dan Kinerja Pemasaran pada Universitas Telkom, Universitas Islam Bandung, dan Universitas Kristen Maranatha)”ini merupakan salah satu syarat untuk meraih gelar Doktor Ilmu Pendidikan dalam Bidang Administrasi Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia.

Menurut Imanuddin, manajemen pemasaran pendidikan berbeda dengan bisnis pada umumnya. Manajemen pemasaran pendidikan tidak semata-mata mencari laba, tetapi juga merupakan tanggung jawab sosial. “Manajemen pemasaran perguruan tinggi mempunyai ciri khas, yaitu tidak boleh berbohong, mengatakan jujur, dan bertanggung jawab kepada kemanusian dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Imanuddin.

Dalam penelitian diungkap, dari sekitar kurang lebih 4.400 perguruan tinggi yang ada di Indonesia setiap tahunnya harus bersaing mendapatkan calon mahasiswa dari lulusan siswa SMA sederajat yang jumlah nya kurang lebih 8 juta jiwa. Dari banyaknya perguruan tinggi tersebut, dibagi lagi menjadi 2 jenis yaitu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Imandduin menuturkan, PTN merupakan pilihan utama dari siswa yang baru saja lulus SMA. PTN saling bersaing melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMBPTN). Hanya saja dari SMBPTN tersebut daya tampung PTN sangat terbatas sehingga tidak semua pendaftar tertampung. Hal tersebut menjadi peluang bagi PTS sekaligus juga menjadi tantangan dalam menangkap peluang mendapatkan calon mahasiswa.

“Untuk bisa memenangkan persaingan PTS membutuhkan manajemen pemasaran perguruan tinggi yang efektif dan efesien untuk menarik minat calon mahasiswa agar mendaftar di PTS,” ujar Imanuddin.

Dalam penelitian ini aspek yang diteliti ialah aspek pasar, produk, harga, sumber daya, strategi pemasaran, persaingan, kepuasan, kesetiaan, dan pertumbuhan. Kemudian dikelompokkan lagi menjadi studi pasar, studi bauran pemasaran, dan kinerja perguruan tinggi.

Imannudin mempresentasikan disertasinya di hadapan penguji Prof Dr Hiro Tugiman, Prof Dr H Aan Komariah, M P, Prof Dr H Agus Rahayu, MP, Prof H Mohammad Fakry Gaffar, M Ed sebagai Promotor, dan Prof Dr H Djam’an Satori, MA sebagai Co-Promotor. Dalam sidang ini, Imanuddin dinyatakan lulus dengan IPK 3,8 dan dengan predikat sangat memuaskan. (purel/ead)

Previous Article Next Article

Leave a Reply