19 Nov 2015

Ramaikan ICoTiC 2015, Sejumlah Pakar Membahas Transformasi Komunikasi

BANDUNG, TEL-U – Masalah dalam masyarakat modern kini antara lain berkaitan dengan perubahan secara global termasuk tentu saja perkembangan di bidang komunikasi sosial. Di antaranya bagaimana budaya dan etika dalam tumbuh dan menyesuaikan dengan perubahan itu sendiri.

Hal ini disampaikan oleh Chairperson International Conference on Transformation in Communication (ICoTiC) 2015, Diah Agung Esfandari, B.A., M.Si di Gedung Merdeka Kota Bandung, Rabu (18/11). ICoTiC 2015 merupakan konferensi pertama yang diselenggarakan oleh prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis (FKB) Tel-U.

Konferensi ini sejalan dengan tujuan Tel-U yang akan berbasis pada ICT,tapi kami melihat hal fundamental dari permasalahan ICT yang sekarang ada di dunia komunikasi adalah permasalahan budaya dan etika, yaitu isu yang ada pada keseharian kita,” papar Diah.

Diah menambahkan, bahwa salah satu tujuan dari kegiatan ini juga adalah untuk mendukung visi misi Tel-U yang di mana 2017 nanti akan menjadi world class university. “Kalau fakultas tidak mendukung, lalu bagaimana caranya Tel-U menuju WCU? Kalau tidak sekarang kapan lagi?” ujarnya.

Mengingat konferensi ini penting untuk setiap individu dan lembaga yang memiliki nilai ikatan yang kuat dengan sektor komunikasi termasuk pendidikan, telekomunikasi, pemerintah, hukum, manajemen, dan industri budaya, maka panitia menghadirkan pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya.

ICoTiC 2015 pada hari pertama (18/11) dibuka dengan pidato bertemakan The Importance of Intercultural Competence in the Era of Globalization and New Media yang disampaikan oleh Prof. Deddy Mulyana sebagai keynote speaker. Dilanjut dengan Plenary discussion oleh Rektor Tel-U Prof. Mochammad Ashari, PhD dan Dr. Ross Tapsell dari Australian National University. Sedangkan pada sharing session bertema “Cultural and Ethical Issues in Communication Nowdays” hadir Andi Bachtiar Yusuf (Bogalakon Pictures), dan M. Fajran Rasyid (Bukalapak.com).

Adapun pada hari kedua, Kamis (19/11) dilanjutkan dengan konferensi internasional yang akan diadakan di Hotel Savoy Homan Kota Bandung. Tidak kurang dari 77 peserta mempresentasikan pemikiran mereka. Dari 77 peserta ini, 10 di antaranya berasal dari luar negeri (Malaysia dan Australia), dan 67 sisanya berasal dari Sabang sampai Merauke.

Selain didukung penuh oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung, kegiatan ini juga bekerjasama dengan empat universitas negeri, yaitu Universitas Padjajaran, Universitas Udayana, Universitas Diponegoro, dan Universitas Andalas. (purel/nisa)

Previous Article Next Article

Leave a Reply