22 Jun 2015

Tak Perlu Peralatan Mahal, Tim Badaya Raih Juara 3 Kontes Robot Seni Indonesia

BANDUNG, TEL-U – Membuat robot tak selalu harus merogoh kocek dalam-dalam. Buktinya, hanya dengan memanfaatkan peralatan yang ada di laboratorium, Tim Badaya Telkom University (Tel-U) berhasil merakit robot keren. Bahkan bisa meraih juara 3 pada Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI) 2015 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 11-14 Juni lalu.

“Dalam membuat robot Badaya, kami memanfaatkan peralatan yang ada di laboratorium. Dipoles algoritma-algoritma pemrograman maksimal. Robot Badaya tak perlu biaya mahal namun tak kalah canggih dengan robot yang mahal,” kata Aris Pujud Kurniawan, mahasiswa D3 Teknik Komputer FIT Tel-U.

“Kami membuat robot yang menari seperti manusia. Robot kami dapat melakukan gerakan tarian mengikuti alunan musik pengiring,” imbuhnya. Selain Aris, tim Badaya lainnya yakni dua mahasiswa D3 Teknik Komputer FIT Tel-U Lathif Ritya Dwi Putra dan Muhammad Gibran Toto. Serta mahasiswa D3 Teknik Telekomunikasi FIT Tel-U Muhammad Abid Irwan.

Pada tahun ini, KRSI mengangkat tema tarian Bambangan Cakil. Di kompetisi ini, tim membuat dua robot yang dapat membawakan tarian Bambangan Cakil. Robot pertama berperan sebagai Arjuna dan robot kedua berperan sebagai Cakil (Raksasa). Kedua robot juga dirias layaknya penari.

“Robot yang kami buat dapat menari layaknya manusia. Saat kontes, robot Badaya otomatis menari ketika mendengar musik Bambangan Cakil. Robot berhenti menari ketika musik berhenti. Pada tarian ini Arjuna sebagai tokoh protagonis dan si Cakil sebagai tokoh antagonis,” kata Lathif.

Menurut Lathief, robot Badaya menggunakan dua sistem yang berbeda untuk satu robot. Perbedaan sistem penggerak ini terletak pada tangan dan kaki robot. Kemudian robot dilengkapi dengan wireless agar robot dapat berkomunikasi ketika menari. Sehingga tarian yang ditampilkan menjadi sesuai dengan irama.

“Robot Badaya dilengkapi komunikasi wireless pada robot agar kedua robot dapat saling bersinkornisasi. Selain itu, terdapat sensor suara agar robot dapat bergerak ketika mendengar alunan musik,” imbuh Gibran.

Dibandingkan dengan robot dari tim lain, robot Badaya memiliki bobot paling ringan. Menurut Gibran, robot terdiri dari komponen-komponen ringan. Dengan begitu, robot Badaya tidak mudah jatuh karena bobotnya.

Tim ini berada di bawah bimbingan dosen mereka, Simon Siregar S.Si., M.T. Pada Kontes Robot Indonesia tahun ini, Tel-U menurunkan 4 robot andalannya. Yaitu robot Badaya pada kategori KRSI, Roobics untuk kategori KRAI, Azkaizan 4wd untuk kategori KRPAI Beroda dan Arjuna di kategori KRPAI Berkaki.

“Kami bersyukur atas prestasi yang telah diperoleh. Namun belum merasa puas karena targetnya adalah merebut Juara Pertama dari ke-4 kategori yang diikuti pada Kontes Robot Indonesia kali ini,” kata Gibran.

Tim sadar, ini tidak mudah. Namun, “Kami akan berusaha lebih keras lagi agar memperoleh juara pertama pada kontes tahun depan karena kami pantang menyerah untuk mempersembahkan yang terbaik bagi kampus ini,” tutur Gibran. (purel/risca)

Previous Article Next Article

Leave a Reply