Peneliti Telkom University Kaji Peran Gen-AI sebagai Ruang Dukungan Mental Remaja

Bandung, 1 September 2026 – Peneliti Telkom University kembali menorehkan capaian akademik melalui publikasi penelitian pada jurnal internasional bereputasi. Penelitian berjudul “Generative Artificial Intelligence as a Confidant for Youth: Navigating Mental Support and Cultural Stigma in Bandung” yang ditulis oleh Ferdian Surya Wibowo, Haryasena Panduwiyasa, dan Muhardi Saputra telah terbit di Frontiers in Human Dynamics, jurnal internasional yang terindeks Scopus. Penelitian ini mengangkat fenomena penggunaan Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) sebagai ruang bagi remaja untuk memperoleh dukungan mental sekaligus mengungkapkan pengalaman emosional mereka.

Penelitian tersebut berfokus pada bagaimana remaja di Bandung memanfaatkan Gen-AI sebagai tempat bercerita dan mencari dukungan ketika menghadapi persoalan emosional. Kajian ini turut melihat pengaruh norma budaya yang dapat menghambat keterbukaan dalam mengungkapkan perasaan, khususnya konsep “sungkan” dan “tidak enakan” yang berkembang dalam interaksi sosial masyarakat. Kondisi tersebut menjadi penting untuk dikaji di tengah persoalan kesehatan mental remaja, termasuk prevalensi depresi di Jawa Barat yang dalam penelitian ini disebut mencapai 3,3 persen.

Melalui penelitian ini, Gen-AI ditemukan memiliki peran ganda (double-edged sword) dalam memberikan dukungan mental kepada remaja. Di satu sisi, teknologi tersebut dapat menyediakan ruang yang dirasakan lebih aman bagi remaja untuk melakukan disclosure atau mengungkapkan perasaan tanpa khawatir terhadap stigma, penilaian sosial, maupun rasa sungkan ketika bercerita kepada orang lain. Kehadiran AI dengan demikian dapat menjadi alternatif awal bagi individu yang merasa kesulitan untuk membuka diri kepada keluarga, teman, maupun lingkungan sosialnya.

Namun, penelitian ini juga menyoroti sejumlah risiko dari penggunaan Gen-AI dalam konteks dukungan mental. AI hallucination, yaitu munculnya informasi atau respons yang tidak akurat, serta kecenderungan melakukan self-diagnosis berdasarkan respons AI dapat menimbulkan pemahaman yang keliru mengenai kondisi seseorang. Apabila tidak disertai pemahaman yang memadai, penggunaan AI berpotensi membuat individu menunda pencarian bantuan dari tenaga profesional. Oleh karena itu, Gen-AI dinilai tidak dapat ditempatkan sebagai pengganti dukungan manusia maupun layanan profesional.

Temuan tersebut kemudian mendorong pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam penggunaan Gen-AI oleh remaja. Penelitian merekomendasikan penguatan pendidikan digital dan emotional literacy, termasuk pemahaman mengenai kemampuan serta keterbatasan Gen-AI. Di lingkungan pendidikan, sekolah juga dapat melihat penggunaan AI untuk mengungkapkan persoalan emosional sebagai salah satu sinyal kebutuhan dukungan yang belum terpenuhi, sehingga dapat menjadi pintu masuk untuk memberikan perhatian dan pendampingan yang lebih tepat kepada siswa.

Selain itu, penelitian merekomendasikan agar pengembang teknologi turut menghadirkan safety mechanisms dan pathway yang memungkinkan pengguna memperoleh rujukan kepada tenaga profesional ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pendekatan ini menempatkan teknologi bukan sekadar sebagai pemberi respons, tetapi sebagai bagian dari ekosistem dukungan yang mampu mengarahkan pengguna kepada sumber bantuan yang tepat. Dengan demikian, pemanfaatan Gen-AI dapat dilakukan secara lebih aman dan bertanggung jawab, khususnya bagi kelompok usia muda.

Publikasi ini menegaskan kontribusi peneliti Telkom University dalam mengkaji perkembangan teknologi digital sekaligus dampaknya terhadap kehidupan sosial dan kesejahteraan generasi muda. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Gen-AI dapat diposisikan sebagai “confidant of first resort”, yakni ruang awal bagi remaja untuk mengungkapkan perasaan dan mencari dukungan, bukan sebagai pengganti manusia maupun tenaga profesional. Temuan ini sekaligus membuka ruang bagi pengembangan literasi digital, lingkungan pendidikan, serta desain teknologi AI yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan keselamatan pengguna.

Penulis: Rahmat Rambe | Editor: Belinda Fransisca Bunadi | Foto: Gayuh Nugraha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link