Mahasiswa Tel-U Ciptakan Monitor Pintar:  Masa Depan Edukasi Museum yang Lebih Interaktif dengan AI 

Monitor Pintar Tel U

Mahasiswa Telkom University membuat inovasi monitor pintar yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan konteks museum yang dilengkapi dengan pengenalan suara pengguna dan merespon suara pengguna dengan intonasi yang menawan, diberi nama Memories (Museum Education using Monitor Intelligent System).  

Tim pengembang Memories (Tim Memories) terdiri dari lima mahasiswa angkatan 2020 dan 2021 yang memiliki peran dan spesialisasi masing-masing. Agung Hadi Winoto dari S1 Data Sains sebagai koordinator tim, Ariq Heritsa Maalik dari S1 Data Sains sebagai Web Apps Developer, Akbar Muhammad Prakoso dari S1 Informatika sebagai Sistem Analis, Krisna Iskandar Putra dari S1 Akuntansi sebagai Public Relation, dan Elsi Vinalsy dari S1 Akuntansi sebagai Literature Review Koordinator. Semua program rutin dipantau dan didampingi oleh Dr. Gamma Kosala S.Si, M.Si, 

Memories dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Telkom University dan mendapatkan pendanaan dari Kemendikbudristek dalam menjalankan program. Prototipe monitor pintar ini bertujuan sebagai upaya untuk meningkatkan minat kunjungan ke museum di Indonesia dengan harapan dapat berperan sebagai media komunikasi yang dapat membantu pengunjung memperoleh informasi, arahan, ataupun rekomendasi terhadap pengalaman menarik di museum.  

“Memories diciptakan untuk menyediakan pengalaman yang lebih menarik, interaktif, dan edukatif kepada pengunjung museum. Kami berharap dengan adanya inovasi ini, museum-museum di Indonesia mendapatkan daya tarik untuk berkunjung untuk mencoba pengalaman baru dengan teknologi pengenalan suara dan kecerdasan buatan.” harap Agung. 

Memories dibentuk melalui pembuatan aplikasi. Dengan menggunakan bahasa pemograman Java dengan framework ReactJS Memories dihubungkan dengan beberapa Application Programming Interface (API) yang dapat membantu interaksi antar layanan dalam pengembangan aplikasi yang kolaboratif.  

Cara penerapan aplikasi ini, suara pengunjung dikenali melalui teknologi pengenalan suara. Setelah dikenali, kecerdasan buatan (AI)  akan menganalisis untuk menghasilkan jawaban yang sesuai dengan konteks museum. Kemudian, AI akan menyajikan respons dalam bentuk suara dengan intonasi yang menarik. Tim Memories juga membangun perangkat keras dalam mendukung program ini berjalan sebagaimana fungsinya yang terdiri dari beberapa komponen seperti monitor, speaker, mic, dan sebagainya.  

Produk ini telah dilakukan pengujian di Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA), yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. MKAA merupakan lokasi strategis karena telah terdapat teknologi serupa yang sebelumnya. Dengan adanya perbandingan langsung antara “Memories” dan teknologi sebelumnya, tim berharap dapat menunjukkan inovasi keunggulan dan perkembangan yang ditawarkan kepada mereka. 

“Inovasi yang dibuat oleh Memories ini sudah bagus dan mengikuti perkembangan zaman. Apalagi sekarang kita sudah banyak pakai AI, bila diimplementasikan di Museum akan sangat bermanfaat bagi pengunjung. Dengan sistem ini nanti juga bakal bisa mendapatkan banyak informasi walaupun tanpa kehadiran edukator,” ungkap Nisa, Staff MKAA 

Sebagai upaya mengedukasi masyarakat dengan hal-hal yang berkaitan dengan AI dan Museum, tim Memories juga memiliki akun media sosial instagram melalui https://www.instagram.com/memories.pkmkc/.  Harapannya akun media sosial ini dapat mendorong inovasi edukasi museum ke tingkat lebih tinggi dan interaktif dengan teknologi AI. 

Penulis: Agung Hadi Winoto | Editor: Daris Maulana | Foto: Public Relations

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *